Jumat, 27 Maret 2026

Riwayat Hidup Siswa Utama Buddha - Bhikkhu Mahākassapa

Riwayat Hidup Siswa Utama Buddha

Bhikkhu Mahākassapa

Bhikkhu Mahākassapa memiliki nama asli Pipphali. Ia adalah putra seorang brahmaṇa yang berpengaruh. Orangtuanya menginginkan penerus keluarga sehingga mereka mengatur pernikahan Pipphali dengan Bhaddā Kāpilānī, putri seorang brahmaṇa juga. Pipphali berusia 20 tahun dan Bhaddā Kāpilānī berusia 16 tahun. Namun, mereka berdua tidak tertarik pada kehidupan berumah-tangga dan menyadari bahaya hidup berumah-tangga. Akhirnya, mereka memutuskan untuk meninggalkan kehidupan berumah-tangga, memberikan semua harta mereka kepada keluarga dan pengikutnya, mengenakan jubah kuning, memotong rambut, dan meninggalkan rumah bersama.

Setelah berjalan bersama hingga jarak tertentu, mereka sepakat bahwa sebagai petapa, tidaklah pantas berjalan berdua karena dapat dipandang rendah oleh orang lain. Mereka lalu berpisah. Bhaddā Kāpilānī lalu bergabung dengan komunitas bhikkhuṇī dan akhirnya mencapai tingkat kesucian Arahat.

Suatu hari, Pipphali melihat Buddha duduk di bawah pohon banyan yang disebut bahuputtika nigrodha di antara Rājagaha dan Nālandā. Ia merasa yakin dan meminta agar Buddha menerimanya sebagai murid. Buddha mengabulkan permohonannya dan memberikan tiga nasihat:

1. Hormatilah para bhikkhu, baik yang senior, junior, dan diantaranya.

2. Dengarkan Dhamma dengan saksama dan renungkanlah.

3. Jagalah penyadaran dengan tubuh sebagai objeknya.

Setelah menerima nasihat tersebut, Pipphali, yang kini menjadi Bhikkhu Mahākassapa, tekun berlatih dan berhasil mencapai tingkat kesucian Arahat pada hari kedelapan setelah ditahbis. Ia melakukan praktik dhutaṅga dengan tiga cara: mengenakan jubah dari kain bekas, berpiṇḍapāta, dan tinggal di hutan. Buddha memuji Mahākassapa sebagai bhikkhu unggul dalam laku tapa ketat.

Suatu ketika, Bhikkhu Mahākassapa menemui Buddha di Veḷuvana. Buddha memberikan jubah yang didermakan oleh seorang hartawan kepadanya, namun, Mahākassapa memilih untuk tetap mengenakan jubah lamanya dengan alasan bahwa ia merasa bahagia dan puas dengan hidup sederhana.

Setelah Buddha mencapai parinibbāna, Bhikkhu Mahākassapa melakukan perjalanan ke Kota Pāvā. Dalam perjalanan, ia bertemu seorang petapa Ajivaka yang memberitahunya bahwa Buddha telah parinibbāna tujuh hari lalu. Beberapa bhikkhu menangis sedih, sementara yang lain mengingat Dhamma. Pada sat itu, Bhikkhu Subhadda, yang ditahbis diusia lanjut, meminta bhikkhu lain untuk tidak bersedih, karena mereka kini bebas melakukan apa pun.

Mahākassapa merasa khawatir melihat sikap tidak hormat beberapa bhikkhu tersebut. Setelah memberi nasehat kepada para bhikkhu, ia melanjutkan perjalanan ke Kusinārā dan memberikan penghormatan terakhir kepada Buddha. Mahākassapa lalu mengumpulkan para bhikkhu tujuh hari setelah pengkremasian jasad Buddha. Ia mengajak mereka untuk melakukan Persamuhan Agung (saṅgāyanā), mengumpulkan Dhammavinaya, ajaran Buddha sebelum parinibbāna.

Para bhikkhu setuju dan Bhikkhu Mahākassapa memilih 500 bhikkhu Arahat untuk mengulang Dhammavinaya di gua Sattapanni di Rājagaha. Bhikkhu Upāli membacakan Vinaya, Bhikkhu Ānanda mengulangi pembabaran (Sutta) dengan Raja Ajātasattu sebagai sponsor. Sidang berlangsung selama tujuh bulan. Setelah itu, Bhikkhu Mahākassapa tinggal di Wihara Veḷuvana dan mencapai Parinibbāna di Rājagaha pada usia seratus dua puluh tahun.

5. Ringkasan Kisah Bhikkhu Mahā Kassapa

Unsur

Penjelasan

Who (Siapa)

Nama aslinya adalah Pipphali. Seorang brāhmaṇa kaya yang sangat gemar menjalani hidup prihatin (tapa) dan tidak terikat pada kekayaan materi.

What (Apa)

Pemimpin Konsili Buddhis Pertama. Ia dikenal sebagai satu-satunya bhikkhu yang pernah bertukar jubah dengan Buddha sebagai tanda penghormatan dan kepercayaan.

Where (Di mana)

Bertemu Buddha di antara Rajagaha dan Nalanda, di bawah pohon Bahuputtaka Nigrodha.

When (Kapan)

Menjadi pemimpin komunitas bhikkhu (Sangha) setelah Buddha Parinibbāna untuk menjaga kemurnian ajaran.

Why (Mengapa)

Ia memilih hidup sebagai petapa Dhutanga (praktik keras) untuk memberikan contoh disiplin yang tinggi bagi para bhikkhu lainnya.

How (Bagaimana)

Ia mencapai kesucian Arahat hanya dalam waktu 8 hari. Buddha memujinya sebagai yang unggul dalam Dhutanga (praktik disiplin yang keras).

Daftar Istilah Penting:

  • Upaṭṭhāka: Pelayan pribadi Buddha yang bertugas mengurus keperluan harian Beliau.
  • Bahussuta: Gelar bagi mereka yang memiliki pengetahuan luas karena banyak mendengar Dhamma.
  • Dhutanga: 13 praktik disiplin keras untuk mengikis kekotoran batin (misal: hanya makan sekali sehari, tinggal di hutan).
Konsili Buddhis Pertama: Pertemuan 500 Arahat untuk menghimpun kembali ajaran Buddha (Sutta dan Vinaya) agar tidak hilang atau berubah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar