Riwayat Hidup Siswa Utama Buddha
Bhikkhu Mahākassapa
Bhikkhu Mahākassapa memiliki nama
asli Pipphali. Ia adalah putra seorang brahmaṇa yang berpengaruh. Orangtuanya
menginginkan penerus keluarga sehingga mereka mengatur pernikahan Pipphali
dengan Bhaddā Kāpilānī, putri seorang brahmaṇa juga. Pipphali berusia 20 tahun
dan Bhaddā Kāpilānī berusia 16 tahun. Namun, mereka berdua tidak tertarik pada
kehidupan berumah-tangga dan menyadari bahaya hidup berumah-tangga. Akhirnya,
mereka memutuskan untuk meninggalkan kehidupan berumah-tangga, memberikan semua
harta mereka kepada keluarga dan pengikutnya, mengenakan jubah kuning, memotong
rambut, dan meninggalkan rumah bersama.
Setelah berjalan bersama hingga
jarak tertentu, mereka sepakat bahwa sebagai petapa, tidaklah pantas berjalan
berdua karena dapat dipandang rendah oleh orang lain. Mereka lalu berpisah.
Bhaddā Kāpilānī lalu bergabung dengan komunitas bhikkhuṇī dan akhirnya mencapai
tingkat kesucian Arahat.
Suatu hari, Pipphali melihat
Buddha duduk di bawah pohon banyan yang disebut bahuputtika nigrodha di antara
Rājagaha dan Nālandā. Ia merasa yakin dan meminta agar Buddha menerimanya
sebagai murid. Buddha mengabulkan permohonannya dan memberikan tiga nasihat:
1. Hormatilah para bhikkhu, baik
yang senior, junior, dan diantaranya.
2. Dengarkan Dhamma dengan
saksama dan renungkanlah.
3. Jagalah penyadaran dengan
tubuh sebagai objeknya.
Setelah menerima nasihat
tersebut, Pipphali, yang kini menjadi Bhikkhu Mahākassapa, tekun berlatih dan
berhasil mencapai tingkat kesucian Arahat pada hari kedelapan setelah ditahbis.
Ia melakukan praktik dhutaṅga dengan tiga cara: mengenakan jubah dari kain
bekas, berpiṇḍapāta, dan tinggal di hutan. Buddha memuji Mahākassapa sebagai
bhikkhu unggul dalam laku tapa ketat.
Suatu ketika, Bhikkhu Mahākassapa
menemui Buddha di Veḷuvana. Buddha memberikan jubah yang didermakan oleh
seorang hartawan kepadanya, namun, Mahākassapa memilih untuk tetap mengenakan
jubah lamanya dengan alasan bahwa ia merasa bahagia dan puas dengan hidup
sederhana.
Setelah Buddha mencapai
parinibbāna, Bhikkhu Mahākassapa melakukan perjalanan ke Kota Pāvā. Dalam
perjalanan, ia bertemu seorang petapa Ajivaka yang memberitahunya bahwa Buddha
telah parinibbāna tujuh hari lalu. Beberapa bhikkhu menangis sedih, sementara
yang lain mengingat Dhamma. Pada sat itu, Bhikkhu Subhadda, yang ditahbis
diusia lanjut, meminta bhikkhu lain untuk tidak bersedih, karena mereka kini
bebas melakukan apa pun.
Mahākassapa merasa khawatir
melihat sikap tidak hormat beberapa bhikkhu tersebut. Setelah memberi nasehat
kepada para bhikkhu, ia melanjutkan perjalanan ke Kusinārā dan memberikan
penghormatan terakhir kepada Buddha. Mahākassapa lalu mengumpulkan para bhikkhu
tujuh hari setelah pengkremasian jasad Buddha. Ia mengajak mereka untuk
melakukan Persamuhan Agung (saṅgāyanā), mengumpulkan Dhammavinaya, ajaran
Buddha sebelum parinibbāna.
Para bhikkhu setuju dan Bhikkhu
Mahākassapa memilih 500 bhikkhu Arahat untuk mengulang Dhammavinaya di gua
Sattapanni di Rājagaha. Bhikkhu Upāli membacakan Vinaya, Bhikkhu Ānanda
mengulangi pembabaran (Sutta) dengan Raja Ajātasattu sebagai sponsor. Sidang
berlangsung selama tujuh bulan. Setelah itu, Bhikkhu Mahākassapa tinggal di
Wihara Veḷuvana dan mencapai Parinibbāna di Rājagaha pada usia seratus dua
puluh tahun.
5. Ringkasan Kisah Bhikkhu
Mahā Kassapa
|
Unsur |
Penjelasan |
|
Who (Siapa) |
Nama aslinya adalah Pipphali.
Seorang brāhmaṇa kaya yang sangat gemar menjalani hidup prihatin (tapa) dan
tidak terikat pada kekayaan materi. |
|
What (Apa) |
Pemimpin Konsili Buddhis
Pertama. Ia dikenal sebagai satu-satunya bhikkhu yang pernah bertukar jubah
dengan Buddha sebagai tanda penghormatan dan kepercayaan. |
|
Where (Di mana) |
Bertemu Buddha di antara
Rajagaha dan Nalanda, di bawah pohon Bahuputtaka Nigrodha. |
|
When (Kapan) |
Menjadi pemimpin komunitas
bhikkhu (Sangha) setelah Buddha Parinibbāna untuk menjaga kemurnian ajaran. |
|
Why (Mengapa) |
Ia memilih hidup sebagai petapa
Dhutanga (praktik keras) untuk memberikan contoh disiplin yang tinggi bagi
para bhikkhu lainnya. |
|
How (Bagaimana) |
Ia mencapai kesucian Arahat
hanya dalam waktu 8 hari. Buddha memujinya sebagai yang unggul dalam Dhutanga
(praktik disiplin yang keras). |
Daftar Istilah Penting:
- Upaṭṭhāka: Pelayan pribadi Buddha yang bertugas
mengurus keperluan harian Beliau.
- Bahussuta: Gelar bagi mereka yang memiliki
pengetahuan luas karena banyak mendengar Dhamma.
- Dhutanga: 13 praktik disiplin keras untuk mengikis
kekotoran batin (misal: hanya makan sekali sehari, tinggal di hutan).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar