Senin, 19 Oktober 2026

MODUL 4.09: TOLERANSI DALAM PERGAULAN (Pertemuan ke-2)

MATERI PEMBELAJARAN
PENDIDIKAN AGAMA BUDDHA DAN BUDI PEKERTI

MODUL 4.09: TOLERANSI DALAM PERGAULAN

Satuan Pendidikan

SD Sariputra

Kelas / Semester

IV / Ganjil

Tahun Pelajaran

2026–2027


Alokasi Waktu: 2 JP (1x Pertemuan)
Hari Selasa, 22 Oktober 2026

Tujuan Pembelajaran

Setelah mempelajari materi ini, peserta didik diharapkan mampu:

1.     Menjelaskan pengertian toleransi dalam pergaulan.

2.     Memahami pentingnya menghargai perbedaan.

3.     Meneladani sikap Buddha Sakyamuni dalam menghargai sesama manusia.

4.     Menunjukkan sikap toleransi di rumah, sekolah, dan rumah ibadah.

Menyelesaikan masalah dalam pergaulan dengan cara yang baik dan damai.

5. Gotong Royong sebagai Wujud Toleransi

Dalam modul, terdapat cerita tentang warga desa tempat tinggal Mita yang memiliki agama berbeda-beda, tetapi tetap melaksanakan kerja bakti membersihkan lingkungan secara bersama-sama. Kerja sama tersebut membuat desa menjadi bersih, indah, dan bermanfaat bagi masyarakat.

Dari cerita tersebut, kita dapat belajar bahwa:

·       Perbedaan bukan penghalang untuk bekerja sama.

·       Setiap orang dapat memberikan sumbangan sesuai kemampuannya.

·       Gotong royong mempererat persaudaraan.

·       Kerukunan membawa kebahagiaan dan manfaat bagi semua orang.

Contoh di sekolah adalah membersihkan kelas bersama-sama, membagi tugas secara adil, dan menyelesaikan pekerjaan tanpa saling menyalahkan.

6. Cara Menyelesaikan Masalah dalam Pergaulan

Dalam pergaulan, terkadang kita mengalami perselisihan atau perbedaan pendapat. Kita harus menyelesaikannya dengan tenang dan tidak menggunakan kekerasan.

Langkah-langkah menyelesaikan masalah dengan baik:

1.     Menenangkan diri ketika merasa marah.

2.     Mendengarkan penjelasan teman.

3.     Menyampaikan pendapat dengan sopan.

4.     Mencari jalan keluar yang adil bagi semua pihak.

5.     Meminta maaf dan memaafkan jika terjadi kesalahan.

Contoh kasus: Ketika mengerjakan tugas kelompok, Rina ingin membuat poster, sedangkan Budi ingin membuat gambar cerita. Mereka sebaiknya mendengarkan alasan masing-masing, berdiskusi, kemudian memilih cara yang disepakati bersama. Mereka tidak perlu bertengkar hanya karena memiliki pendapat berbeda.

C. Kesimpulan Materi

Toleransi dalam pergaulan adalah sikap menghargai perbedaan dan memperlakukan orang lain dengan baik. Toleransi dapat diwujudkan melalui cinta kasih, belas kasih, gotong royong, sikap saling menolong, dan kemampuan menyelesaikan masalah secara damai.

Sebagai peserta didik yang mempelajari Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti, kita hendaknya meneladani Buddha Sakyamuni dengan mengembangkan cinta kasih kepada semua makhluk.

Pesan pokok: Kerukunan dalam kelompok akan mendatangkan kebahagiaan.

D. Latihan Soal

1. Apa yang dimaksud dengan toleransi dalam pergaulan?

Jawaban: Toleransi dalam pergaulan adalah sikap menghargai dan menghormati perbedaan yang dimiliki orang lain.

2. Apa arti semboyan Bhinneka Tunggal Ika?

Jawaban: Berbeda-beda tetapi tetap satu.

3. Sebutkan tiga contoh sikap toleransi di sekolah!

Jawaban: Berteman tanpa membeda-bedakan agama atau suku; menghargai pendapat teman ketika berdiskusi; membantu teman yang mengalami kesulitan.

4. Mengapa kita harus melakukan gotong royong meskipun memiliki perbedaan agama atau budaya?

Jawaban: Karena gotong royong mempererat persaudaraan, menciptakan kerukunan, dan memberikan manfaat bagi semua orang.

5. Ketika kamu berbeda pendapat dengan teman saat mengerjakan tugas kelompok, apa yang sebaiknya kamu lakukan? Jelaskan!

Jawaban: Saya sebaiknya tetap tenang, mendengarkan pendapat teman, menyampaikan pendapat dengan sopan, dan mencari kesepakatan bersama tanpa bertengkar.

E. Refleksi Diri Peserta Didik

Berilah tanda centang (✓) pada pernyataan yang sesuai dengan dirimu.

☐  Saya menghargai teman yang berbeda agama dan budaya.

☐  Saya tidak mengejek teman yang memiliki perbedaan.

☐  Saya mau bekerja sama dengan semua teman.

☐  Saya menyelesaikan perselisihan dengan berbicara baik-baik.

☐  Saya berusaha mengembangkan cinta kasih kepada semua makhluk.

Tuliskan satu sikap toleransi yang akan kamu lakukan mulai hari ini:

........................................................................................................................

........................................................................................................................

Mari saling menghormati, menyayangi, dan menolong. Perbedaan bukan alasan untuk bermusuhan, melainkan kesempatan untuk belajar hidup rukun dan bahagia bersama.

MODUL 4.09: TOLERANSI DALAM PERGAULAN

MATERI PEMBELAJARAN
PENDIDIKAN AGAMA BUDDHA DAN BUDI PEKERTI

MODUL 4.09: TOLERANSI DALAM PERGAULAN

Satuan Pendidikan

SD Sariputra

Kelas / Semester

IV / Ganjil

Tahun Pelajaran

2026–2027


Alokasi Waktu: 2 JP (1x Pertemuan)
Hari Selasa, 20 Oktober 2026

A. Tujuan Pembelajaran

Setelah mempelajari materi ini, peserta didik diharapkan mampu:

1.     Menjelaskan pengertian toleransi dalam pergaulan.

2.     Memahami pentingnya menghargai perbedaan.

3.     Meneladani sikap Buddha Sakyamuni dalam menghargai sesama manusia.

4.     Menunjukkan sikap toleransi di rumah, sekolah, dan rumah ibadah.

5.     Menyelesaikan masalah dalam pergaulan dengan cara yang baik dan damai.

B. Materi Pokok

1. Pengertian Toleransi dalam Pergaulan

Toleransi adalah sikap menghargai dan menghormati perbedaan yang dimiliki orang lain. Perbedaan tersebut dapat berupa agama, suku, bahasa, adat istiadat, budaya, pendapat, maupun kebiasaan.

Dalam pergaulan, kita bertemu dengan banyak orang yang memiliki sifat dan latar belakang berbeda. Kita tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain atau menganggap diri sendiri paling benar.

Contoh sikap toleransi dalam kehidupan sehari-hari:

·       Berteman dengan siapa saja tanpa membeda-bedakan agama dan suku.

·       Mendengarkan pendapat teman ketika berdiskusi.

·       Tidak mengejek teman yang memiliki kebiasaan berbeda.

·       Memberikan kesempatan kepada teman untuk menjalankan ibadahnya.

·       Membantu teman yang mengalami kesulitan.

2. Bhinneka Tunggal Ika

Indonesia memiliki beragam suku, agama, ras, bahasa, budaya, dan adat istiadat. Keberagaman tersebut merupakan kekayaan bangsa yang harus dijaga.

Semboyan bangsa Indonesia adalah Bhinneka Tunggal Ika, yang berarti “berbeda-beda tetapi tetap satu”. Maknanya, meskipun memiliki banyak perbedaan, kita tetap satu bangsa Indonesia. Oleh karena itu, kita harus hidup rukun, saling menghormati, dan bekerja sama.

Contoh penerapannya di sekolah:

·       Bermain bersama teman yang berbeda agama.

·       Bekerja dalam kelompok tanpa memilih-milih teman.

·       Menghargai pendapat yang berbeda saat musyawarah.

·       Tidak melakukan perundungan karena perbedaan fisik atau latar belakang.

3. Toleransi dalam Ajaran Agama Buddha

Dalam ajaran Buddha, kita diajarkan untuk mengembangkan cinta kasih kepada semua makhluk hidup, menolong sesama, dan tidak menyakiti orang lain. Sikap toleransi dapat dikembangkan melalui nilai-nilai berikut:

Metta (cinta kasih). Menyayangi dan mengharapkan kebahagiaan semua makhluk tanpa membeda-bedakan. Contoh: menyayangi semua teman dan tidak menyakiti perasaan mereka.

Karuna (belas kasih). Memiliki kepedulian terhadap penderitaan orang lain dan berusaha membantu mereka. Contoh: menghibur teman yang sedih dan membantu teman yang kesulitan belajar.

Gotong royong dan saling menolong. Bekerja bersama untuk mencapai tujuan yang bermanfaat bagi semua orang. Contoh: membersihkan kelas bersama tanpa membedakan latar belakang teman.

Ajaran tersebut mengingatkan kita bahwa cinta kasih tidak hanya diberikan kepada orang yang kita sukai, tetapi juga kepada semua makhluk hidup.

4. Contoh Toleransi dalam Pergaulan

Lingkungan

Contoh Sikap Toleransi

Rumah

Menghargai pendapat anggota keluarga dan membantu pekerjaan rumah.

Sekolah

Berteman tanpa membeda-bedakan, berbagi tugas, dan tidak mengejek teman.

Rumah ibadah

Menjaga ketenangan, menghormati orang yang beribadah, dan menaati tata tertib.

Masyarakat

Mengikuti kerja bakti dan membantu tetangga tanpa memandang perbedaan.

Senin, 12 Oktober 2026

MODUL 4.08 : MENGHARGAI SESAMA UMAT BUDDHA

Ringkasan Materi Pembelajaran 4.08: “Menghargai Sesama Umat Buddha”

I.         Berkah Mengunjungi Vihara

Vihara adalah tempat suci bagi umat Buddha untuk melaksanakan puja bakti, mendengarkan Dhamma, bermeditasi, berdana, dan mempraktikkan ajaran Buddha. Mengunjungi vihara menjadi bermanfaat apabila kita melakukan perbuatan baik dan menjalankan ajaran Buddha.

Saat berada di vihara, kita hendaknya:

1)     Berpakaian rapi dan sopan.

2)     Menjaga ketenangan serta tidak bermain telepon genggam saat puja bakti.

3)     Menghormati bhikkhu, guru agama, dan seluruh umat yang beribadah.

4)     Menjaga kebersihan dan menaati tata tertib vihara.

5)     Bersikap ramah kepada semua orang tanpa membeda-bedakan.

 

II.          Keberagaman di Vihara

Umat Buddha memiliki latar belakang, bahasa, kebiasaan, dan cara beribadah yang mungkin berbeda. Perbedaan tersebut bukan alasan untuk bertengkar atau menjauhi orang lain.

Kita perlu menghargai setiap orang, bersikap toleran, saling membantu, dan menjaga kerukunan. Jika terdapat perbedaan pendapat, kita hendaknya berbicara dengan sopan, mendengarkan pendapat orang lain, dan mencari penyelesaian bersama.

III.          Cara Menghargai Sesama Umat Buddha

Menghargai sesama umat Buddha dapat dilakukan dengan cara:

1)     Metta (cinta kasih): bersikap ramah dan mengharapkan kebahagiaan semua makhluk.

2)     Karuna (welas asih): membantu orang yang mengalami kesulitan.

3)     Khanti (kesabaran): tidak mudah marah ketika menghadapi perbedaan.

4)     Sila (moralitas): menjaga ucapan dan tindakan agar tidak menyakiti orang lain.

5)     Empati: berusaha memahami perasaan dan keadaan orang lain.

 

Contohnya, menyapa umat yang baru datang ke vihara, membantu orang lanjut usia, tidak mengejek kebiasaan orang lain, dan mengingatkan teman dengan sopan ketika mengganggu puja bakti.

 

IV.         Kisah Enam Kelompok Bhikkhu

Dalam kisah enam kelompok bhikkhu, terjadi perselisihan antara kelompok enam bhikkhu dan kelompok tujuh belas bhikkhu mengenai penggunaan sebuah bangunan di Jetavana. Kelompok enam bhikkhu merasa lebih senior dan menggunakan kekerasan ketika kelompok lain tidak mau mengalah.

Buddha menegur perbuatan tersebut dan menetapkan aturan agar para bhikkhu tidak memukul bhikkhu lainnya.

Kisah ini mengajarkan bahwa:

1)     Merasa lebih senior atau lebih unggul tidak membenarkan kita merendahkan orang lain.

2)     Perselisihan harus diselesaikan dengan bijaksana, bukan dengan kekerasan.

3)     Kita harus menjaga ucapan dan tindakan agar tidak menyakiti sesama.

4)     Setiap orang perlu belajar mengendalikan diri dan menghormati orang lain.

 

Ajaran Dhammapada mengingatkan bahwa semua makhluk takut terhadap hukuman dan kematian. Karena itu, kita hendaknya tidak membunuh maupun menyebabkan makhluk lain terbunuh.


kisah lengkapnya silahkan klik tautan berikut: https://dharmasenna.blogspot.com/2026/10/kisah-enam-kelompok-bhikkhu.html

V.         Kesimpulan

Menghargai sesama umat Buddha berarti menerima perbedaan, bersikap ramah, saling membantu, menjaga ketenangan di vihara, dan menyelesaikan masalah tanpa kekerasan. Dengan mempraktikkan cinta kasih, welas asih, kesabaran, dan moralitas, kita dapat menciptakan suasana vihara yang aman, damai, dan menyenangkan bagi semua umat.

Kisah Enam Kelompok Bhikkhu

Kisah Enam Kelompok Bhikkhu

Dikisahkan bahwa sekelompok enam bhikkhu berselisih dengan kelompok bhikkhu lainnya ketika mereka sama-sama ingin menggunakan sebuah bangunan di kompleks Vihara Jetavana. Kelompok enam bhikkhu merasa lebih berhak karena menganggap diri mereka lebih senior. Ketika kelompok lain tidak memberikan tempat itu, mereka menggunakan kekerasan hingga bhikkhu lain kesakitan.

Buddha mengetahui peristiwa tersebut, menegur tindakan kekerasan itu, dan menetapkan aturan agar bhikkhu tidak memukul bhikkhu lain. Dalam Dhammapada, Buddha mengingatkan bahwa semua orang takut terhadap hukuman dan kematian. Karena memahami hal itu, seseorang hendaknya tidak menyakiti atau menyebabkan makhluk lain tersakiti.

Pesan kisah: perbedaan pendapat harus diselesaikan dengan bijaksana. Merasa lebih tua, lebih lama menjadi umat, atau lebih berpengalaman tidak memberi hak untuk merendahkan orang lain. Kita perlu menghormati keselamatan dan perasaan setiap orang, mengendalikan kemarahan, serta mencari jalan keluar yang adil.

Rabu, 07 Oktober 2026

ASESMEN PEMBELAJARAN 4.07

Materi Pokok: Berbagi Pengalaman Pribadi tentang Perbedaan

A.    Pilihlah jawaban yang paling tepat dengan memberi tanda silang (X) pada huruf A, B, C, atau D.

Bacaan untuk soal nomor 1–2

Di kelas IV terdapat 24 siswa. Mereka memiliki makanan kesukaan yang berbeda. Sebanyak 8 siswa menyukai makanan pedas, 6 siswa menyukai makanan manis, dan 5 siswa menyukai makanan gurih. Sisanya menyukai makanan lainnya.

1.     Berapa siswa yang menyukai makanan lainnya?

A.    3 siswa

B.    4 siswa

C.    5 siswa

D.    6 siswa

2.     Pernyataan yang paling tepat berdasarkan bacaan tersebut adalah ....

A.    Semua siswa memiliki makanan kesukaan yang sama.

B.    Perbedaan makanan kesukaan dapat menjadi kesempatan untuk saling menghargai.

C.    Siswa yang menyukai makanan pedas lebih baik daripada siswa lainnya.

D.    Siswa harus mengikuti makanan kesukaan terbanyak.

Bacaan untuk soal nomor 3

Jivaka merawat Buddha yang mengalami luka pada ibu jari kaki. Setelah merawat Buddha, Jivaka pergi ke kota untuk mengobati pasien lainnya. Jivaka melayani orang yang membutuhkan pertolongan tanpa membedakan kedudukan mereka. Ia melayani raja maupun orang biasa dengan penuh perhatian.

3.     Sikap Jivaka yang dapat diterapkan dalam kehidupan siswa adalah ....

A.    hanya membantu teman yang dekat dengan kita

B.    membantu orang lain jika mendapatkan imbalan

C.    membantu dan menghargai orang lain tanpa membeda-bedakan

D.    memilih teman berdasarkan kekayaan dan kedudukannya

Bacaan untuk soal nomor 4–5

Empat siswa berbagi pengalaman tentang perbedaan budaya.

Siswa

Pengalaman

Saddha

Mengetahui makanan khas daerah temannya

Metta

Belajar beberapa kata dari bahasa daerah teman

Raka

Mengetahui tradisi keluarga temannya

Citra

Mengetahui permainan tradisional dari daerah lain

4.     Berdasarkan tabel tersebut, berapa jumlah pengalaman yang berkaitan dengan budaya, bahasa, tradisi, dan permainan?

A.    2 pengalaman

B.    3 pengalaman

C.    4 pengalaman

D.    5 pengalaman

5.     Kesimpulan yang paling tepat berdasarkan tabel tersebut adalah ....

A.    Perbedaan membuat siswa tidak dapat berteman.

B.    Berbagi pengalaman dapat membantu siswa mengenal keberagaman.

C.    Hanya pengalaman tentang bahasa yang perlu dihargai.

D.    Pengalaman budaya tidak perlu diceritakan kepada teman.

B.    Isilah titik-titik dengan jawaban yang tepat.

1.     Setiap manusia memiliki pengalaman, kebiasaan, dan latar belakang yang __________.

2.     Berbagi pengalaman tentang perbedaan membantu kita belajar untuk __________ orang lain.

3.     Ketika teman sedang bercerita, kita harus mendengarkan dengan penuh __________.

4.     Jivaka melayani orang yang membutuhkan pertolongan tanpa membedakan __________ mereka.

5.     Metta berarti __________ kasih.

6.     Karuna berarti rasa kasih dan __________ terhadap makhluk yang mengalami penderitaan.

7.     Di kelas terdapat 30 siswa. Sebanyak 12 siswa menyukai olahraga, 8 siswa menyukai seni, dan 6 siswa menyukai membaca. Jumlah siswa yang telah memilih ketiga kegiatan yang disukai adalah __________ siswa.

8.     Berdasarkan soal nomor 7, siswa yang belum memilih ketiga kegiatan tersebut berjumlah __________ siswa.

9.     Jika 4 siswa berbagi pengalaman tentang perbedaan dan setiap siswa menceritakan 2 pengalaman, jumlah pengalaman yang dibagikan adalah __________ pengalaman.

10. Jika 20 siswa mengikuti kegiatan berbagi pengalaman dan 15 siswa sudah berani menceritakan pengalamannya, maka siswa yang belum berbagi pengalaman berjumlah __________ siswa.



Selamat Belajar

Soal ini diberikan untuk latihan peserta didik lebih mendalami materi pembelajaran.