RIWAYAT HIDUP SISWA-SISWA UTAMA BUDDHA
1. Bhikkhu Aññā Koṇḍañña
Bhikkhu Aññā Koṇḍañña lahir dari
keluarga Brāhmaṇa Mahāsāla di Desa Doṇavatthu, dekat Kapilavatthu. Awalnya, ia
dikenal sebagai Koṇḍañña. Di masa mudanya, ia mempelajari tiga Veda dan
memahami cara meramal berdasarkan tanda pada tubuh. Ia adalah salah satu dari
delapan brāhmaṇa yang meramalkan bahwa Pangeran Siddhattha akan meninggalkan
istana untuk menjadi petapa dan mencapai kecerahan sempurna.
Lima hari setelah kelahiran
Pangeran Siddhattha, Raja Suddhodana mengundang 108 brāhmaṇa untuk meramal
nasib pangeran. Dari 108 brāhmaṇa, terpilih 8, termasuk Koṇḍañña, yang termuda.
Tujuh brāhmaṇa meramalkan dua kemungkinan:
1. Jika pangeran menjadi perumah
tangga, ia akan menjadi raja dunia.
2. Jika menjadi petapa, pangeran
akan mencapai kecerahan sempurna sebagai Buddha.
Koṇḍañña yakin bahwa pangeran
akan memilih untuk menjadi petapa. Ia bertekad untuk mengikuti pangeran jika ia
meninggalkan keduniawian. Ketika Pangeran Siddhattha memutuskan untuk menjadi
petapa dan menjalani latihan penyiksaan diri. Dalam perjalanan pencarian
kebenaran, Koṇḍañña mengajak empat temannya, yakni Vappa, Bhaddiya, Mahānāma,
dan Assaji, yang juga merupakan putra para brāhmaṇa yang hadir dalam upacara
meramal nasib pangeran. Mereka berlima dikenal sebagai Pañcavaggīya, yang kelak
akan berlatih penyiksaan diri bersama Petapa Siddhattha untuk mencapai
kecerahan.
Setelah mencapai kecerahan
sempurna, Buddha mengajarkan Dhammacakkappavattana Sūtta di Taman Rusa
Isipatana, yang merupakan pembabaran Dhamma pertama, kepada Pañcavaggīya. Koṇḍañña
mampu melihat Dhamma (Dhammacakkhu) dan mencapai Sotāpattiphala. Buddha
mengetahui pencapaiannya dan menyatakan, "Aññāsi vata bho Koṇḍañño,"
yang berarti Koṇḍañña telah mengerti. Karena itulah, ia dikenal sebagai Aññā Koṇḍañña.
Setelah memahami Dhamma, Koṇḍañña
menghilangkan semua keraguan terhadap ajaran Buddha dan memohon untuk ditahbis.
Buddha menjawab, ‖Mari, Bhikkhu, Dhamma telah dibabarkan dengan sempurna.
Jalanilah kehidupan suci demi berakhirnya duka." Penahbisan ini disebut
Ehi Bhikkhu Upasampada, menjadikannya bhikkhu pertama dalam agama Buddha.
Buddha juga menahbiskan empat
anggota Pañcavaggīya lainnya, yang kemudian mencapai kesucian. Suatu hari,
Buddha mengajarkan mereka bahwa tubuh, perasaan, pencerapan, pemikiran, dan
kesadaran adalah tanpa-diri. Dengan pemahaman ini, mereka melepaskan ketertarikan
terhadap semua itu, dan kelima bhikkhu berhasil merealisasi kesucian Arahat
setelah mendengar pembabaran Dhamma kedua, Anattalakkhaṇa Sūtta.
Bhikkhu Aññā Koṇḍañña berperan
penting dalam menyebarkan ajaran Buddha, termasuk dalam kelompok 60 Arahat yang
diutus untuk menyebarkan Dhamma ke berbagai penjuru dunia. Ia juga berhasil
menahbiskan Puṇṇa, putra Mantānī, yang kemudian menyebarkan Dhamma lebih
lanjut. Koṇḍañña dikenal sebagai bhikkhu unggul dalam rataññū, yang mengetahui
masa lampau. Ia berusia panjang dan wafat sebelum Buddha Parinibbāna di tepi
kolam teratai Mandākinī, tempat tinggal gajah chandanta di Hutan Himavānta.
Ringkasan Kisah Bhikkhu Aññā
Koṇḍañña
|
Unsur |
Penjelasan |
|
Who (Siapa) |
Aññā Koṇḍañña, seorang
brāhmaṇa terpelajar yang menjadi murid pertama Buddha dan merupakan pemimpin
kelompok lima petapa (Pañcavaggīya). |
|
What (Apa) |
Perjalanan spiritual Koṇḍañña
mulai dari meramalkan masa depan Pangeran Siddhattha, menjadi pengikutnya,
hingga menjadi orang pertama yang mencapai kesucian Sotāpanna dan
ditahbiskan menjadi bhikkhu. |
|
Where (Di mana) |
Ia lahir di Desa Doṇavatthu,
menemani petapa Siddhattha di hutan, menerima khotbah pertama di Taman
Rusa Isipatana, dan wafat di tepi kolam Mandākinī (Hutan
Himavānta). |
|
When (Kapan) |
Dimulai sejak kelahiran
Pangeran Siddhattha (saat upacara ramalan), selama masa pencarian pencerahan
Buddha, hingga masa penyebaran Dhamma sebelum Buddha Parinibbāna. |
|
Why (Mengapa) |
Karena keyakinannya yang teguh
pada ramalannya sendiri bahwa Pangeran Siddhattha pasti akan menjadi Buddha,
sehingga ia bertekad untuk mengikuti dan berlatih bersama Sang Petapa. |
|
How (Bagaimana) |
Ia mencapai kesucian setelah
mendengar khotbah Dhammacakkappavattana Sūtta. Buddha kemudian
menahbisnya dengan ucapan "Ehi Bhikkhu" (Datanglah,
Bhikkhu). Ia pun menjadi Arahat setelah mendengar khotbah kedua, Anattalakkhaṇa
Sūtta. |
Poin Penting Tambahan:
- Gelar: Ia dijuluki Aññā (yang telah
mengerti) dan dikenal sebagai bhikkhu yang paling senior/berpengalaman (Rataññū).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar