Kamis, 12 Maret 2026

DIALOG DALAM MODERASI BERAGAMA

DIALOG DALAM MODERASI BERAGAMA

Dialog antarumat beragama merupakan sebuah percakapan terbuka dan hormat di antara orang-orang dari berbagai keyakinan. Dialog ini bukan bertujuan untuk mengubah keyakinan orang lain, melainkan untuk saling memahami, belajar satu sama lain, dan membangun rasa saling menghormati. Moderasi beragama, di sisi lain, adalah sikap dan tindakan yang menjembatani perbedaan keyakinan. Moderasi beragama tidak berarti mencampuradukkan agama, tetapi lebih kepada mencari titik temu dan persamaan di antara berbagai keyakinan. Moderasi beragama dalam agama Buddha adalah sikap batin yang seimbang di dasari oleh cinta kasih, belas kasih dan rasa simpati dalam memahami dan mempraktikkan Dharma atau ajaran Buddha.

Manfaat Dialog untuk memperkuat persatuan berdasarkan ajaran Buddha. Ajaran Buddha menekankan pentingnya perdamaian dan harmoni. Buddha mengajarkan kita untuk hidup dengan penuh kasih sayang, welas asih, dan kebijaksanaan. Dialog antarumat beragama merupakan salah satu cara untuk mewujudkan nilai-nilai luhur tersebut dalam kehidupan bermasyarakat. Melalui dialog, kita dapat menerapkan metta dan karuna: Dengan mendengarkan dan memahami orang lain, kita dapat menumbuhkan rasa kasih sayang dan belas kasih terhadap semua makhluk.

Pada zaman Buddha ada seorang raja yang berana Asoka Wardhana atau dikenal juga dengan nama Dhammasoka. Beliau adalah seorang raja yang menganut ajaran Buddha. Untuk menjunjung tinggi toleransi antar umat beragama maka beliau mengeluarkan dekrit yang isinya sebagai berikut:

“… Janganlah kita menghormat agama kita sendiri dengan mencela agama orang lain. Sebaliknya agama orang lain hendaknya dihormati atas dasar tertentu. Dengan berbuat begini kita membantu agama kita sendiri untuk berkembang disamping menguntungkan pula agama lain. Dengan berbuat sebaliknya kita akan merugikan agama kita sendiri di samping merugikan agama orang lain.

Oleh karena itu, barang siapa menghormati agamanya sendiri dengan mencela agama lain – semata-mata karena dorongan rasa bakti kepada agamanya dengan berpikir ‘bagaimana aku dapat memuliakan agamaku sendiri.’ maka dengan berbuat demikian ia malah amat merugikan agamanya sendiri.

Dialog antarumat beragama merupakan alat yang penting untuk memperkuat persatuan dan harmoni dalam masyarakat yang beragam. Dengan semangat metta dan karuna, marilah kita bersama-sama membangun dialog yang konstruktif dan saling menghormati antarumat beragama, demi mewujudkan cita-cita masyarakat yang damai dan sejahtera.

 

Referensi:

Nurwito dan Umarnatu. Buku Peserta didikan Pendidikan Agama Buddha kelas 6. Pusat Perbukuan Kemendikbud. 2022.

https://samaggi-phala.or.id/naskah-dhamma/yang-ariya-upali/

file:///C:/Users/asihb/Downloads/jjsa,+Journal+editor,+3.+Sofi,+Yulian,+Heni.pdf

https://kemenag.go.id/buddha/meneguhkan-semangat-toleransi-9l6jsp https://ntt.kemenag.go.id/opini/674/moderasi-beragama-perspektif-agama-buddha

Tidak ada komentar:

Posting Komentar