Jumat, 27 Maret 2026

Riwayat Hidup Siswa Utama Buddha - Bhikkhu Sāriputta

Bhikkhu Sāriputta

Bhikkhu Sāriputta lahir di desa Nālaka atau Nālandā dekat Kota Rājagaha. Ayah dan ibunya bernama Brāhmaṇa Vaṅganta dan Brāhmaṇi Sārī. Nama asli Bhikkhu Sāriputta adalah Upatissa. Setelah ditahbis, teman-teman Upatissa memanggilnya Bhikkhu Sāriputta, yang berarti putra dari Ibu Sārī.

Upatissa adalah putra keluarga kaya dan berpengaruh. Ia berteman baik dengan Kolita Moggallāgotara, yang berasal dari keluarga kaya juga. Mereka sering menonton pertunjukan di Rājagaha, berbagi kebahagiaan dan kesedihan bersama. Suatu hari, saat akan menonton pertunjukan, mereka merasa tidak bahagia. Kolita lalu bertanya kepada Upatissa mengapa ia tampak murung. Upatissa menjawab bahwa menonton pertunjukan itu tidak bermanfaat, kebanyakan orang akan mati dalam waktu kurang dari seratus tahun. Ia lalu berpikir lebih baik mencari Dhamma untuk pembebasan. Kolita setuju dan keduanya memutuskan untuk ditahbis menjadi petapa di bawah Sañjaya Paribājaka, seorang petapa non-Buddhis. Keduanya belajar ajaran Sañjaya, tetapi menolak untuk mengajar karena belum yakin dengan ajarannya. Mereka berjanji untuk saling memberi kabar jika salah satu dari mereka menemukan Dhamma sejati.

Setelah Buddha mencapai kecerahan sempurna dan menyebarkan ajaran-Nya di Rājagaha, Bhikkhu Assaji, salah satu dari lima petapa, sedang berjalan kembali setelah menerima derma makanan. Upatissa, yang melihat Bhikkhu Assaji, tertarik dengan perilakunya yang terkendali. Upatissa mengikuti Bhikkhu Assaji dan bertanya tentang guru Bhikkhu Assaji dan ajarannya. Bhikkhu Assaji menjelaskan bahwa petapa agung dari suku Sākiya adalah gurunya. Bhikkhu Assaji menjelaskan bahwa segala sesuatu muncul karena sebab dan Petapa Agung itu mengajarkan tentang sebab dan akhir dari semua itu.

Mendengar penjelasan Bhikkhu Assaji, Upatissa mencapai Sotapattiphala. Ia lalu bertanya di mana Petapa Agung itu berada. Setelah tahu bahwa Buddha berdiam di Wihara Veḷuvana, Upatissa kembali untuk memberitahu Kolita, dan mereka berencana menemui Buddha. Walaupun Sañjaya menghalangi mereka, Upatissa dan Kolita tetap pergi ke Wihara Veḷuvana dan memohon penahbisan. Buddha lalu menahbis mereka menjadi bhikkhu.

Murid-murid Sañjaya tergerak untuk mengikuti jejak Upatissa dan Kolita. Diantara mereka, banyak yang berhasil mencapai Arahattaphala. Bhikkhu Moggallāna mencapai Arahattaphala setelah tujuh hari, sedangkan Bhikkhu Sāriputta mencapai Arahattaphala setelah 15 hari. Bhikkhu Sāriputta sangat bijaksana dan berperan penting dalam mengajarkan Dhamma. Buddha memuji Sāriputta sebagai yang unggul dalam kebijaksanaan dan mengajar. Bhikkhu Sāriputta adalah sahabat yang baik bagi siapa saja. Ia tak segan menegur dan memberi nasihat kepada siapa saja.

Buddha memuji Bhikkhu Sāriputta dan Moggallāna sebagai contoh baik bagi bhikkhu lain. Sāriputta diibaratkan seperti ibu yang melahirkan, sedangkan Moggallāna seperti ibu susu yang merawat anak. Buddha memberi Bhikkhu Sāriputta gelar Panglima Dhamma (Dhammasenapati) yang berarti pemimpin dalam penyebaran Dhamma.

Pada hari kelima belas bulan kedua belas, Bhikkhu Sāriputta mencapai Parinibbāna. Adiknya, Cunda, mengkremasi jenazah Bhikkhu Sāriputta dan mempersembahkan reliknya kepada Buddha di Wihara Jetavana di Kota Sāvatthī. Di sana dibangunlah cetiya untuk mengabadikan relik tersebut.

Ringkasan Kisah Bhikkhu Sāriputta

Unsur

Penjelasan

Who (Siapa)

Upatissa (nama asli), putra Brāhmaṇa Vaṅganta dan Ibu Sārī. Ia adalah sahabat karib Kolita (Moggallāna) dan kemudian menjadi siswa utama Buddha.

What (Apa)

Pencarian kebenaran sejati setelah menyadari kesia-siaan hidup duniawi, pertemuannya dengan Bhikkhu Assaji, hingga menjadi "Panglima Dhamma".

Where (Di mana)

Lahir di desa Nālaka/Nālandā. Menemui Buddha di Wihara Veḷuvana (Rājagaha). Reliknya diabadikan di Wihara Jetavana (Sāvatthī).

When (Kapan)

Masa awal penyebaran Dhamma. Ia mencapai kesucian Sotāpanna setelah mendengar bait dari Bhikkhu Assaji, dan mencapai Arahat 15 hari setelah ditahbiskan.

Why (Mengapa)

Ia merasa pertunjukan duniawi tidak bermanfaat karena semua orang akan mati, sehingga ia bertekad mencari ajaran yang membebaskan dari kematian.

How (Bagaimana)

Melalui pemahaman bahwa "segala sesuatu muncul karena sebab" (Ye Dhammā Hetuppabhavā). Karena kecerdasannya, Buddha memberinya gelar Dhammasenapati (Panglima Dhamma).

Daftar Istilah Penting:

  • Dhammasenapati: Gelar "Panglima Dhamma", pemimpin dalam penyebaran ajaran.
  • Sotāpanna: Tingkat kesucian pertama ("Pemasuk Arus") yang dicapai Upatissa saat pertama kali mendengar intisari Dhamma.
  • Arahattaphala: Buah dari kesucian tertinggi (Arahat), pencapaian akhir dari duka.
  • Cetiya: Bangunan suci yang digunakan untuk menyimpan relik (sisa kremasi) tokoh suci.
  • Ye Dhammā Hetuppabhavā: Bait terkenal yang diucapkan Bhikkhu Assaji tentang hukum sebab-akibat yang membuat Sāriputta tersadar.

Perbandingan Peran:

Buddha memberikan perumpamaan yang sangat indah untuk kedua siswa utamanya:

  • Sāriputta: Ibarat ibu kandung yang melahirkan (membimbing orang pertama kali mengenal Dhamma).
Moggallāna: Ibarat ibu susu yang merawat (membimbing siswa hingga mencapai kemajuan spiritual lebih lanjut).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar