Jumat, 27 Maret 2026

Riwayat Hidup Siswa Utama Buddha - Bhikkhu Moggallāna

Riwayat Hidup Siswa Utama Buddha

Bhikkhu Moggallāna

Bhikkhu Moggallāna adalah putra seorang kepala desa bernama Kolita dari keluarga Moggallāna, ibunya bernama Moggallī. Ia lahir di Desa Kolitagāma, dekat Kota Rājagaha. Setelah ditahbis, ia dikenal sebagai Bhikkhu Moggallāna. Sejak muda Kolita bersahabat dengan Sāriputta, yang seumur dengannya. Mereka bersama-sama belajar dan akhirnya ditahbis dalam Dhammavinaya.

Tujuh hari setelah ditahbis, Bhikkhu Moggallāna pergi ke Desa Kallavālamuttagāma di Magadha. Saat itu, ia merasa putus asa dan mengantuk. Buddha lalu datang menasihatinya dan mengajarinya delapan cara untuk mengatasi kantuk:

1. Ketika mengantuk, jangan mengarahkan perhatian pada pencerapan apapun yang menyebabkan kantuk itu.

2. Jika masih mengantuk, ingatlah kembali Dhamma yang telah dipelajari.

3. Jika masih mengantuk, ucapkanlah kembali Dhamma yang telah dipelajari.

4. Jika masih mengantuk, dengan telapak tangan pijatlah daun telinga dan badan.

5. Jika masih mengantuk, bangkitlah, basuhlah matamu dengan air, arahkanlah pandangan ke berbagai arah, lihatlah bintang-bintang di langit.

6. Jika masih mengantuk, kembangkanlah persepsi cahaya, mengingat cerahnya siang.

7. Jika masih mengantuk, berjalanlah dengan penuh penyadaran.

8. Jika masih mengantuk, berbaringlah menganan layaknya singa, penuh penyadaran, mengingat saat terbangun. Ketika kantuk sirna, bengkitlah segera dan ingatlah, ―Aku tidak akan mengejar kesenangan dalam tidur, berbaring, dan mengantuk‖.

Buddha juga mengingatkan agar Bhikkhu Moggallāna tidak unjuk diri saat mengunjungi sanak keluarga. Jika seorang bhikkhu unjuk diri, ia bisa kecewa ketika tidak diperhatikan, dan inilah sebab hilangnya keheningan batin. Selain itu, Bhikkhu Moggallāna juga diajarkan untuk tidak mengucapkan kata-kata yang memicu perselisihan karena akan menimbulkan banyak pemikiran dan kegelisahan yang mengganggu keheningan batin. Buddha memuji tempat-tempat sepi dan sunyi dan mengajarkan untuk menghindari tempat riuh dan ramai.

Setelah mendengar nasihat Buddha, Bhikkhu Moggallāna bertanya bagaimana cara seorang bhikkhu dapat menembusi Dhamma dan meninggalkan nafsu. Buddha menjelaskan bahwa seorang bhikkhu harus memahami bahwa semua hal tidak tetap, merenungkan perasaan dengan bijaksana untuk menghindari kelekatan. Ketika tidak lagi terikat, tidak ada ketatakutan atau kekhawatiran. Bhikkhu Moggallāna berhasil mencapai kesucian Arahat pada hari itu juga setelah mempraktikkan yang Buddha ajarkan.

Buddha memuji Bhikkhu Moggallāna dan Sāriputta karena membantu para bhikkhu baru dalam Dhammavinaya. Bhikkhu Moggallāna sangat unggul dalam kesaktian. Ia dapat pergi ke alam surga untuk bertanya kepada para dewa tentang perbuatan yang membawa mereka ke sana, dan juga ke neraka untuk melihat penderitaan makhluk di sana. Bhikkhu Moggallāna juga mengajarkan para perumah tangga agar dapat membedakan kebajikan dan kejahatan.

Bhikkhu Moggallāna wafat mendahului Buddha, dibunuh oleh penjahat bayaran. Meskipun dua kali berhasil meloloskan diri, pada kali ketiga, Moggallāna memutuskan untuk tidak melarikan diri. Ia akhirnya dirajam, tubuhnya dihancurkan dan dicerai-beraikan. Namun, Bhikkhu Mahāmoggallāna sangat sakti. Ia mampu menyatukan lagi seluruh tubuhnya menjadi utuh. Ia lalu terbang untuk berpamitan

Kepada Buddha dengan tubuh luka parah. Bhikkhu Mahāmoggallāna pun mencapai Parinibbāna pada bulan gelap bulan ke-12, setengah bulan setelah Bhikkhu Sāriputta wafat.

Setelah menghadiri upacara kremasi, Buddha meminta untuk menyemayamkan relik Bhikkhu Moggallāna di stupa dekat pintu masuk Wihara Veḷuvana di Rājagaha.

Ringkasan Kisah Bhikkhu Mahā Moggallāna

Unsur

Penjelasan

Who (Siapa)

Kolita (nama asli), putra dari keluarga kaya di desa Kolitaggāma. Ia adalah sahabat karib Upatissa (Sāriputta) dan menjadi siswa utama kedua Buddha.

What (Apa)

Perjalanan mencari kebenaran bersama Sāriputta hingga menjadi bhikkhu yang paling unggul dalam kekuatan gaib atau supranatural (Iddhimantānaṃ).

Where (Di mana)

Lahir di Kolitaggāma. Ia mencapai kesucian tertinggi (Arahat) saat berlatih di desa Kallavāḷamutta, Magadha.

When (Kapan)

Ia mencapai kesucian Arahat hanya dalam waktu 7 hari setelah ditahbiskan, lebih cepat dibandingkan Sāriputta (15 hari).

Why (Mengapa)

Sama seperti Sāriputta, ia menyadari bahwa kesenangan duniawi bersifat sementara dan ingin menemukan jalan keluar dari lingkaran kelahiran dan kematian.

How (Bagaimana)

Ia mencapai pencerahan setelah dibimbing langsung oleh Buddha saat ia merasa mengantuk dalam meditasinya. Ia dikenal mampu menggunakan kekuatan gaib untuk menolong makhluk lain dan menjelaskan hukum karma.


Daftar Istilah Penting:

  • Iddhimantānaṃ: Gelar untuk bhikkhu yang paling unggul dalam kekuatan supranatural (gaib).
  • Abhiññā: Kemampuan batin tinggi atau pengetahuan luar biasa yang dimiliki para Arahat.
  • Moggallāna: Nama yang diambil dari nama klan atau ibunya (Moggallī).
  • Kallavāḷamutta: Tempat di mana Buddha memberikan instruksi kepada Moggallāna untuk mengatasi rasa kantuk (thina-middha) saat bermeditasi.

Perbedaan Khas dengan Sāriputta:

Jika Sāriputta adalah simbol Kebijaksanaan, maka Mahā Moggallāna adalah simbol Kekuatan. Buddha menetapkan mereka berdua sebagai dua siswa utama (Aggasāvaka); Sāriputta di sisi kanan dan Moggallāna di sisi kiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar