Riwayat Hidup Siswa Utama Buddha
Bhikkhu Moggallāna
Bhikkhu Moggallāna adalah putra
seorang kepala desa bernama Kolita dari keluarga Moggallāna, ibunya bernama Moggallī.
Ia lahir di Desa Kolitagāma, dekat Kota Rājagaha. Setelah ditahbis, ia dikenal
sebagai Bhikkhu Moggallāna. Sejak muda Kolita bersahabat dengan Sāriputta, yang
seumur dengannya. Mereka bersama-sama belajar dan akhirnya ditahbis dalam
Dhammavinaya.
Tujuh hari setelah ditahbis,
Bhikkhu Moggallāna pergi ke Desa Kallavālamuttagāma di Magadha. Saat itu, ia
merasa putus asa dan mengantuk. Buddha lalu datang menasihatinya dan
mengajarinya delapan cara untuk mengatasi kantuk:
1. Ketika mengantuk, jangan
mengarahkan perhatian pada pencerapan apapun yang menyebabkan kantuk itu.
2. Jika masih mengantuk, ingatlah
kembali Dhamma yang telah dipelajari.
3. Jika masih mengantuk,
ucapkanlah kembali Dhamma yang telah dipelajari.
4. Jika masih mengantuk, dengan
telapak tangan pijatlah daun telinga dan badan.
5. Jika masih mengantuk,
bangkitlah, basuhlah matamu dengan air, arahkanlah pandangan ke berbagai arah,
lihatlah bintang-bintang di langit.
6. Jika masih mengantuk,
kembangkanlah persepsi cahaya, mengingat cerahnya siang.
7. Jika masih mengantuk,
berjalanlah dengan penuh penyadaran.
8. Jika masih mengantuk,
berbaringlah menganan layaknya singa, penuh penyadaran, mengingat saat
terbangun. Ketika kantuk sirna, bengkitlah segera dan ingatlah, ―Aku tidak akan
mengejar kesenangan dalam tidur, berbaring, dan mengantuk‖.
Buddha juga mengingatkan agar
Bhikkhu Moggallāna tidak unjuk diri saat mengunjungi sanak keluarga. Jika
seorang bhikkhu unjuk diri, ia bisa kecewa ketika tidak diperhatikan, dan
inilah sebab hilangnya keheningan batin. Selain itu, Bhikkhu Moggallāna juga
diajarkan untuk tidak mengucapkan kata-kata yang memicu perselisihan karena
akan menimbulkan banyak pemikiran dan kegelisahan yang mengganggu keheningan
batin. Buddha memuji tempat-tempat sepi dan sunyi dan mengajarkan untuk menghindari
tempat riuh dan ramai.
Setelah mendengar nasihat Buddha,
Bhikkhu Moggallāna bertanya bagaimana cara seorang bhikkhu dapat menembusi
Dhamma dan meninggalkan nafsu. Buddha menjelaskan bahwa seorang bhikkhu harus
memahami bahwa semua hal tidak tetap, merenungkan perasaan dengan bijaksana
untuk menghindari kelekatan. Ketika tidak lagi terikat, tidak ada ketatakutan
atau kekhawatiran. Bhikkhu Moggallāna berhasil mencapai kesucian Arahat pada
hari itu juga setelah mempraktikkan yang Buddha ajarkan.
Buddha memuji Bhikkhu Moggallāna
dan Sāriputta karena membantu para bhikkhu baru dalam Dhammavinaya. Bhikkhu
Moggallāna sangat unggul dalam kesaktian. Ia dapat pergi ke alam surga untuk
bertanya kepada para dewa tentang perbuatan yang membawa mereka ke sana, dan
juga ke neraka untuk melihat penderitaan makhluk di sana. Bhikkhu Moggallāna
juga mengajarkan para perumah tangga agar dapat membedakan kebajikan dan
kejahatan.
Bhikkhu Moggallāna wafat
mendahului Buddha, dibunuh oleh penjahat bayaran. Meskipun dua kali berhasil
meloloskan diri, pada kali ketiga, Moggallāna memutuskan untuk tidak melarikan
diri. Ia akhirnya dirajam, tubuhnya dihancurkan dan dicerai-beraikan. Namun,
Bhikkhu Mahāmoggallāna sangat sakti. Ia mampu menyatukan lagi seluruh tubuhnya
menjadi utuh. Ia lalu terbang untuk berpamitan
Kepada Buddha dengan tubuh luka
parah. Bhikkhu Mahāmoggallāna pun mencapai Parinibbāna pada bulan gelap bulan
ke-12, setengah bulan setelah Bhikkhu Sāriputta wafat.
Setelah menghadiri upacara
kremasi, Buddha meminta untuk menyemayamkan relik Bhikkhu Moggallāna di stupa
dekat pintu masuk Wihara Veḷuvana di Rājagaha.
Ringkasan Kisah Bhikkhu Mahā
Moggallāna
|
Unsur |
Penjelasan |
|
Who (Siapa) |
Kolita (nama asli),
putra dari keluarga kaya di desa Kolitaggāma. Ia adalah sahabat karib
Upatissa (Sāriputta) dan menjadi siswa utama kedua Buddha. |
|
What (Apa) |
Perjalanan mencari kebenaran
bersama Sāriputta hingga menjadi bhikkhu yang paling unggul dalam kekuatan
gaib atau supranatural (Iddhimantānaṃ). |
|
Where (Di mana) |
Lahir di Kolitaggāma. Ia
mencapai kesucian tertinggi (Arahat) saat berlatih di desa Kallavāḷamutta,
Magadha. |
|
When (Kapan) |
Ia mencapai kesucian Arahat
hanya dalam waktu 7 hari setelah ditahbiskan, lebih cepat dibandingkan
Sāriputta (15 hari). |
|
Why (Mengapa) |
Sama seperti Sāriputta, ia
menyadari bahwa kesenangan duniawi bersifat sementara dan ingin menemukan
jalan keluar dari lingkaran kelahiran dan kematian. |
|
How (Bagaimana) |
Ia mencapai pencerahan setelah
dibimbing langsung oleh Buddha saat ia merasa mengantuk dalam meditasinya. Ia
dikenal mampu menggunakan kekuatan gaib untuk menolong makhluk lain dan
menjelaskan hukum karma. |
Daftar Istilah Penting:
- Iddhimantānaṃ: Gelar untuk bhikkhu yang
paling unggul dalam kekuatan supranatural (gaib).
- Abhiññā: Kemampuan batin tinggi atau
pengetahuan luar biasa yang dimiliki para Arahat.
- Moggallāna: Nama yang diambil dari nama klan
atau ibunya (Moggallī).
- Kallavāḷamutta: Tempat di mana Buddha
memberikan instruksi kepada Moggallāna untuk mengatasi rasa kantuk (thina-middha)
saat bermeditasi.
Perbedaan Khas dengan
Sāriputta:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar