NASKAH
DHAMMA: MENJADI ARSITEK NASIB SENDIRI
I.
PENDAHULUAN
Namo Tassa
Bhagavato Arahato Sammā Sambuddhassa (3x)
Selamat pagi
dan Salam Bahagia dalam Dhamma, rekan-rekan mahasiswa sekalian.
Seringkali
kita mendengar keluhan dalam kehidupan sehari-hari: "Mengapa nasib saya
buruk sekali? Mengapa dia yang jarang belajar malah beruntung, sementara saya
sudah berusaha tapi gagal?" Pertanyaan-pertanyaan ini sering membuat
kita merasa dunia ini tidak adil. Namun, dalam ajaran Sang Buddha, tidak ada
peristiwa yang terjadi tanpa sebab. Kita bukanlah korban dari nasib buta,
melainkan arsitek dari kehidupan kita sendiri melalui Hukum Kamma.
II. ISI
(URAIAN MATERI)
Prinsip dasar
dari hukum perbuatan atau Kamma sangat sederhana namun mendalam. Hal ini
dijelaskan oleh Sang Buddha dalam Saṁyutta Nikāya (15/333):
"Yādisaṁ
vapate bījaṁ tādisaṁ labhate phalaṁ, kalyāṇakārī kalyāṇaṁ pāpakārī ca
pāpakaṁ."
(Apapun
benih yang disemai, itulah buah yang didapat. Yang bajik mendapat kebajikan,
yang jahat mendapat keburukan.)
Bayangkan
hidup ini adalah sebuah ladang yang sangat luas. Setiap pikiran kita, setiap
ucapan kita, dan setiap tindakan kita adalah benih yang kita tancapkan
ke tanah. Jika hari ini kita menanam benih mangga, tidak mungkin besok yang
tumbuh adalah buah durian. Begitu pula dengan kehidupan. Seseorang yang menanam
benih kejujuran, maka ia sedang menanam buah kepercayaan di masa depan.
Namun,
mengapa ada orang jahat yang tampak sukses? Sang Buddha mengingatkan kita dalam
Dhammapada: "Selama perbuatan buruk belum berbuah, orang bodoh
menganggapnya semanis madu." Namun, saat buah itu matang, ia akan
merasakan pahitnya.
Sebaliknya,
perhatikan juga bagaimana cara kita bekerja. Dalam Dīgha Nikāya (11/199)
dikatakan:
"Atisītaṁ
atiuṇhaṁ atisāyamidaṁ ahu..." (Terlalu panas, terlalu dingin,
terlalu terlambat. Dengan jawaban inilah, keberuntungan seseorang berlalu.)
Hukum tabur
tuai tidak hanya soal "pahala" gaib, tapi soal etos kerja. Jika kita
malas dengan alasan cuaca atau menunda-nunda waktu, maka kita sedang menanam
benih kegagalan. Keberuntungan tidak akan datang pada mereka yang hanya
menunggu, melainkan pada mereka yang tekun menyemai benih usaha.
III.
PENUTUP (KESIMPULAN)
Rekan-rekan
mahasiswa, Janganlah kita menyalahkan langit atas hujan yang turun, dan jangan
menyalahkan nasib atas kesulitan yang datang. Mari kita mulai memeriksa
"kantong benih" kita masing-masing. Apa yang sedang kita tanam hari
ini di kampus? Apa yang kita tanam dalam pertemanan kita?
Ingatlah
bahwa setiap tindakan kecil memiliki gaung yang besar. Pilihlah benih yang
paling unggul—yaitu kebajikan, disiplin, dan kebijaksanaan—agar saat masa panen
tiba, kita bisa menikmati buah kebahagiaan yang manis dan tanpa penyesalan.
Semoga
pikiran kita selalu terjaga, semoga ucapan kita selalu benar, dan semoga
tindakan kita selalu membawa manfaat bagi semua makhluk.
Sabbe
Sattā Bhavantu Sukhitattā. Semoga Semua Makhluk Hidup Berbahagia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar