Riwayat Hidup Siswa Utama Buddha
Bhikkhu Ānanda
Bhikkhu Ānanda adalah putra Raja
Sukkodana, saudara Raja Suddhodana, dan ibunya adalah Kīsāgotamī, sehingga ia
adalah sepupu Buddha. Ia lahir di Kapilavatthu pada hari yang sama dengan
Buddha. Sebagai keturunan Sākiya, Bhikkhu Ānanda mendapatkan pendidikan yang
baik dan berteman dekat dengan Pangeran Bhaddiya, Anuruddha, Bhaggu, Kimbila,
dan Devadatta.
Setelah kecerahan sempurna,
Buddha mengunjungi keluarganya di Kapilavatthu. Saat itu, beberapa anggota
keluarga kerajaan ditahbis menjadi bhikkhu. Tetapi enam pangeran, termasuk
Ānanda, tidak ikut ditahbis. Mereka mendapat kritik dari keluarga Sākiya bahwa
seharusnya mereka juga menjadi bhikkhu. Mahānāma merasa malu dan berdiskusi
dengan Anuruddha. Anuruddha setuju. Setelah meminta izin ibunya, ratu memberi
syarat bahwa Pangeran Bhaddiya juga harus ditahbis. Setelah membujuk Bhaddiya,
mereka bersama Ānanda pergi menemui Buddha di hutan mangga Anupiyā untuk
memohon penahbisan.
Bhikkhu Ānanda ditahbis dan
dengan cepat mencapai Sotāpattiphala. Selama 20 tahun, Buddha tidak memiliki
pendamping tetap. Terkadang, Buddha harus tinggal sendiri. Buddha akhirnya
meminta saṅgha untuk memilih satu bhikkhu sebagai pendamping tetap Buddha, dan
mereka memilih Ānanda karena kecerdasan dan kedekatannya dengan Buddha. Sebelum
menerima tugasnya, Ānanda mengajukan delapan permohonan untuk menghindari
potensi masalah dan kritik dari orang lain. Buddha setuju dengan permohonan
tersebut, dan Ānanda mulai menjadi pendamping tetap Buddha hingga hari
Parinibbāna.
Ānanda melayani Buddha dengan
penuh kesungguhan dan rela berkorban. Saat Bhikkhu Devadatta berusaha
mencelakai Buddha dengan melepaskan gajah mabuk, Ānanda bersedia menghalangi
gajah itu demi melindungi Buddha. Tetapi Buddha memancarkan cinta kasihnya, menenangkan
gajah tersebut.
Buddha mengakui kecerdasan dan
daya ingat Ānanda, menjadikannya bhikkhu unggul dalam banyak hal, yaitu sebagai
bhikkhu yang unggul dalam: banyak belajar, daya ingat, perilaku baik, tekad,
dan merawat.
Menjelang Buddha Parinibbāna,
Ānanda merasa cemas karena belum mencapai kesucian Arahat. Namun, Buddha
memberitahunya bahwa ia akan mencapai kesucian Arahat pada hari Persamuhan
Agung.
Pada hari Persamuhan Agung,
Bhikkhu Ānanda mengulang seluruh Pembabaran Buddha, yang nantinya menjadi
bagian dari Tipiṭaka. Bhikkhu Ānanda mencapai Parinibbāna di udara di tengah
Sungai Rohiṇī. Tubuhnya terbakar hingga hanya menyisakan tulang yang jatuh di
dua tepi sungai sesuai dengan niatnya. Ānanda adalah salah satu murid Buddha
yang mencapai Arahat dan Parinibbāna dengan cara yang unik.
7. Ringkasan Kisah Bhikkhu Ānanda
|
Unsur |
Penjelasan |
|
Who (Siapa) |
Sepupu Pangeran Siddhattha (putra dari Amitodana, saudara
Raja Suddhodana). Ia adalah pelayan pribadi (Upaṭṭhāka) setia Sang
Buddha selama 25 tahun. |
|
What (Apa) |
Sosok yang paling banyak mendengar dan mengingat khotbah
Buddha. Ia mengajukan 8 syarat sebelum bersedia menjadi pelayan tetap Buddha
agar tidak timbul kecemburuan. |
|
Where (Di mana) |
Lahir di Kapilavatthu. Ia berperan besar dalam
Konsili Buddhis Pertama di Goa Saptaparni (Rajagaha) setelah Buddha
Parinibbāna. |
|
When (Kapan) |
Ia mencapai kesucian Arahat tepat satu malam sebelum
Konsili Buddhis Pertama dimulai, setelah Buddha wafat. |
|
Why (Mengapa) |
Karena kasih sayangnya yang besar kepada Buddha dan
dedikasinya untuk memastikan ajaran Buddha tetap terjaga bagi generasi
mendatang. |
|
How (Bagaimana) |
Ia dikenal sebagai yang unggul dalam lima hal: paling
banyak mendengar (Bahussuta), memiliki ingatan tajam, memiliki
keteguhan, berperilaku baik, dan pelayan yang sempurna. |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar