Jumat, 18 Juli 2025

Musyawarah mufakat dalam kelompok

MUSYAWARAH MUFAKAT DALAM KELOMPOK


Kehidupan bermasyarakat tidak akan luput dari adanya permasalahan serta kesalahpahaman. Maka dari itu, perlu dilakukan musyawarah untuk menyelesaikan berbagai masalah tersebut. Musyawarah bisa dilakukan di mana pun baik di lingkup keluarga, di lingkup sekolah, maupun di tempat kerja. Musyawarah mufakat merupakan salah satu pilar penting untuk mencapai kesepakatan bersama yang bijaksana dalam kehidupan beragama Buddha.

Manfaat musyawarah mufakat dalam kelompok

1.      Melatih untuk Mengemukakan Pendapat

Asas dalam mengemukakan pendapat dalam agama Buddha adalah saling menghargai seperti yang tertulis dalam Digha Nikaya I: 3 sebagai berikut:

"Para bhikkhu, jika seseorang menghina-Ku, Dhamma, atau Sangha, (3) 'kalian tidak boleh marah, tersinggung, atau terganggu akan hal itu. Jika kalian marah atau tidak senang akan penghinaan itu, maka itu akan menjadi rintangan bagi kalian. Karena jika orang lain menghina-Ku, Dhamma, atau Sangha, dan kalian marah atau tidak senang, dapatkah kalian mengetahui apakah yang mereka katakan itu benar atau salah?' ,'Tidak, Bhagava.' 'Jika orang lain menghina-Ku, Dhamma, atau Sangha, maka kalian harus menjelaskan apa yang tidak benar sebagai tidak benar, dengan apa yang bukan ajaran, dengan mengatakan: "Itu tidak benar, itu salah, itu bukan jalan kami, itu tidak ada pada kami."

2.      Masalah Dapat Segera Terpecahkan

Keteladanan dalam bermusyawarah untuk mufakat diperlihatkan oleh Buddha dalam menyelesaikan perselisihan suku Koliya dan suku Sakya memperebutkan air sungai Rohini, yang digunakan untuk mengairi ladang-ladang mereka. Akhirnya kedua suku itu berdamai, membagi air sungai Rohini itu dengan adil, untuk mengairi ladang kedua belah pihak. Mereka lalu hidup dengan damai dan berdampingan, karena iri hati dan kebencian sudah lenyap di hati mereka.

"Sebagian besar orang tidak mengetahui bahwa dalam pertengkaran mereka akan binasa, tetapi mereka yang dapat menyadari kebenaran (ini) akan segera mengakhiri semua pertengkaran" (Dhammapada 6)

3.      Hasil Keputusan Menguntungkan Semua Pihak

Ada tiga macam pertimbangan yang sering digunakan dalam mengambil keputusan:

a)      Attadhipateyya yaitu mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan dan pengalaman diri sendiri yang hasil keputusan itu kadang-kadang benar tetapi juga kadang-kadang salah.

b)      Lokadhipateyya yaitu mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan dari banyak orang/masyarakat luas yang hasil keputusannya bisa benar tetapi bisa juga salah.

c)       Dhammadhipateyya yaitu mengambil keputusan dengan menjadikan Dharma sebagai petunjuk, maka hasil keputusannya pasti benar dan tidak mungkin salah. Menurut Dharma, keputusan dikatakan benar jika keputusan itu tidak hanya bermanfaat dan berguna bagi diri sendiri, tetapi juga dapat bermanfaat dan berguna untuk banyak orang.

 

 

Referensi

1. https://kemenag.go.id/buddha/jangan-mengambil-keputusan-untuk-menyenangkan-diri-sendiri-nhyy9d

2. https://www.gramedia.com/literasi/pengertian-musyawarah-prinsip-tujuan-manfaat-dan-contohnya/

3. https://youtu.be/UccQT1bmjsY


Tidak ada komentar:

Posting Komentar