MUSYAWARAH MUFAKAT DALAM KELOMPOK
Kehidupan bermasyarakat tidak akan luput dari adanya permasalahan serta kesalahpahaman. Maka dari itu, perlu dilakukan musyawarah untuk menyelesaikan berbagai masalah tersebut. Musyawarah bisa dilakukan di mana pun baik di lingkup keluarga, di lingkup sekolah, maupun di tempat kerja. Musyawarah mufakat merupakan salah satu pilar penting untuk mencapai kesepakatan bersama yang bijaksana dalam kehidupan beragama Buddha.
Manfaat musyawarah mufakat dalam kelompok
1.
Melatih untuk Mengemukakan Pendapat
Asas dalam mengemukakan pendapat dalam agama Buddha
adalah saling menghargai seperti yang tertulis dalam Digha Nikaya I: 3 sebagai
berikut:
"Para bhikkhu, jika seseorang menghina-Ku, Dhamma, atau Sangha, (3) 'kalian tidak boleh marah, tersinggung, atau terganggu akan hal itu. Jika kalian marah atau tidak senang akan penghinaan itu, maka itu akan menjadi rintangan bagi kalian. Karena jika orang lain menghina-Ku, Dhamma, atau Sangha, dan kalian marah atau tidak senang, dapatkah kalian mengetahui apakah yang mereka katakan itu benar atau salah?' ,'Tidak, Bhagava.' 'Jika orang lain menghina-Ku, Dhamma, atau Sangha, maka kalian harus menjelaskan apa yang tidak benar sebagai tidak benar, dengan apa yang bukan ajaran, dengan mengatakan: "Itu tidak benar, itu salah, itu bukan jalan kami, itu tidak ada pada kami."
2.
Masalah Dapat Segera Terpecahkan
Keteladanan dalam bermusyawarah untuk mufakat
diperlihatkan oleh Buddha dalam menyelesaikan perselisihan suku Koliya dan suku
Sakya memperebutkan air sungai Rohini, yang digunakan untuk mengairi
ladang-ladang mereka. Akhirnya kedua suku itu berdamai, membagi air sungai
Rohini itu dengan adil, untuk mengairi ladang kedua belah pihak. Mereka lalu
hidup dengan damai dan berdampingan, karena iri hati dan kebencian sudah lenyap
di hati mereka.
"Sebagian besar orang tidak mengetahui bahwa dalam pertengkaran mereka akan binasa, tetapi mereka yang dapat menyadari kebenaran (ini) akan segera mengakhiri semua pertengkaran" (Dhammapada 6)
3.
Hasil Keputusan Menguntungkan Semua Pihak
Ada tiga macam pertimbangan yang sering digunakan dalam mengambil
keputusan:
a)
Attadhipateyya yaitu mengambil keputusan
berdasarkan pertimbangan dan pengalaman diri sendiri yang hasil keputusan itu
kadang-kadang benar tetapi juga kadang-kadang salah.
b)
Lokadhipateyya yaitu mengambil keputusan
berdasarkan pertimbangan dari banyak orang/masyarakat luas yang hasil
keputusannya bisa benar tetapi bisa juga salah.
c)
Dhammadhipateyya yaitu mengambil
keputusan dengan menjadikan Dharma sebagai petunjuk, maka hasil keputusannya
pasti benar dan tidak mungkin salah. Menurut Dharma, keputusan dikatakan benar
jika keputusan itu tidak hanya bermanfaat dan berguna bagi diri sendiri, tetapi
juga dapat bermanfaat dan berguna untuk banyak orang.
Referensi
1. https://kemenag.go.id/buddha/jangan-mengambil-keputusan-untuk-menyenangkan-diri-sendiri-nhyy9d
2. https://www.gramedia.com/literasi/pengertian-musyawarah-prinsip-tujuan-manfaat-dan-contohnya/
3.
https://youtu.be/UccQT1bmjsY
Tidak ada komentar:
Posting Komentar