Jumat, 18 Juli 2025

Musyawarah dalam agama Buddha

Musyawarah dalam agama Buddha

Musyawarah mufakat merupakan salah satu pilar penting untuk mencapai kesepakatan bersama yang bijaksana dalam kehidupan beragama Buddha. Dalam kehidupan bermasyarakat, jangan menganggap diri sendiri yang paling benar dalam berpendapat. Bersikap positiflah kepada orang lain. Terimalah pendapat orang lain. Hindari perbuatan berburuk sangka kepada orang lain. Hindari juga perbuatan kekerasan, memaksakan kehendak dan perselisihan.

Bermusyawarah sudah dianjurkan oleh Buddha. Seandainya musyawarah tidak dilakukan, yang terjadi adalah pertengkaran bahkan peperangan. Seperti pada kisah suku Koliya dan suku Sakya memperebutkan air sungai Rohini, yang digunakan untuk mengairi ladang-ladang mereka. Air sungai ini dibendung dalam sebuah waduk yang dibangun di antara kedua kota, yaitu kota Kapilavastu dan kota Koliya. Para pekerja sedang memanen hasil tanaman mereka. Ketika mereka sedang memetik panen di tepi sungai itu, penduduk suku Koliya mengatakan bahwa, “Seandainya air sungai ini dibagi dua, aliran air tidak bisa mencukupi untuk ke ladang-ladang kita.” Penduduk suku Sakya yang mendengar kata-kata ini lalu menjawab dengan mengatakan bahwa, “Kalian jangan berkata seperti itu, dan kami pun berhak atas air sungai ini.”

Perbincangan mereka makin memanas, saling mencela, dan menjelek-jelekkan pihak lainnya sehingga timbul pertengkaran, mereka mulai saling bertengkar. Pekerja-pekerja yang lain mulai saling menyerang, menjadi perselisihan besar. Akhirnya, masing-masing dari mereka melaporkan perselisihan ini.

Laporan hal ini sampai ke telinga raja. Kedua pihak kerajaan ini segera menyiapkan pasukan tentara perangnya untuk menyerang pihak lainnya. Setelah itu, segera suku Sakya datang bersama pasukan tentaranya berteriak menantang suku Koliya. Mereka berkata bahwa, “Kami suku Sakya akan menunjukkan kekuatan dan kehebatan.” Sebaliknya, tentara suku Koliya juga berteriak bahwa, “Kami tidak takut.” Buddha mengetahui hal ini. Buddha mengajak kedua belah pihak untuk bermusyawarah dan berdamai. Selanjutnya, Buddha menasihati dengan menanyakan alasan mereka berbuat seperti ini kepada kedua raja yang mulia. Seandainya sekarang Buddha tidak ada di sini, bisa dipastikan kalian akan berperang dan sungai ini akan berwarna merah berlimbah darah.”


Sumber Gambar: https://www.dhammasena.org/dhammapada/contents/da15_001.htm

 



Buddha mengucapkan syair-syair ini:

“Sungguh bahagia jika kita hidup tanpa membenci di antara orang-orang yang membenci, di antara orang-orang yang membenci kita hidup tanpa membenci.”

(Dhammapada, Sukha Vagga, 197)

“Sungguh bahagia jika kita hidup tanpa penyakit di antara orang-orang yang berpenyakit, di antara orang-orang yang berpenyakit kita hidup tanpa penyakit.” (Dhammapada, Sukha Vagga, 198)

“Sungguh bahagia kita hidup tanpa keserakahan di antara orang-orang yang serakah, di antara orang-orang yang serakah kita hidup tanpa keserakahan.” (Dhammapada, Sukha Vagga, 199)

Setelah mendengar sabda-sabda Buddha, kedua belah pihak merasa malu dengan apa yang mereka lakukan. Akhirnya kedua sanak keluarga itu berdamai, membagi air sungai Rohini itu dengan adil, untuk mengairi ladang kedua belah pihak. Mereka lalu hidup berdampingan dengan damai, karena kebencian dan iri hati sudah lenyap dari hati mereka.

Referensi:

Nurwito dan Umarnatu. 2022. Buku Peserta didikan Pendidikan Agama Buddha kelas 6. Pusat Perbukuan Kemendikbud.

https://karaniya.com/product/e-book-riwayat-hidup-buddha-gautama/

https://samaggi-phala.or.id/naskah-dhamma/pertengkaran-antar-suku/

https://pustaka.dhammacitta.org/ebook/biografi/Riwayat%20Agung%20Para%20Buddha%20Revisi%201%20-%20Buku%202.pdf

Tidak ada komentar:

Posting Komentar