Minggu, 31 Agustus 2025

Seni berAdu Pendapat

SENI ADU PENDAPAT 

(Belajar dari kisah Saccaka dan Buddha)

Sebagai makhluk sosial, kita tidak dapat hidup sendiri. Di lingkungan rumah, sekolah, atau masyarakat, kita tidak dapat lepas bergaul dengan teman-teman sebaya. Di suatu saat, kita punya pendapat, tak semua orang setuju dengan pendapat kalian. Begitu juga sebaliknya, pendapat orang lain belum tentu kita menerimanya.

Seperti halnya pada zaman Buddha. Ada seosorang yang bernama Saccaka. Saccaka adalah anak dari ayah dan ibu tukang adu pendapat atau adu debat. Dia pandai dalam seribu pertanyaan. Pada suatu hari, Saccaka bertemu dengan Bhikkhu Assaji. Dia menghampiri Bhikkhu Assaji dan menanyakan bagaimanakah Buddha saat mengajar murid-murid-Nya. Saccaka menanyakan ajaran Buddha yang paling terkenal. Bhikkhu Assaji kemudian berkata bahwa Buddha menerangkan bentuk jasmani, kesadaran, perasaan, pencerapan, bentuk batin, adalah selalu berubah dan tidak kekal; dan semua yang berwujud adalah tiada inti. Mendengar pernyataan dari Bhikkhu Assaji, Saccaka mengatakan bahwa dirinya belum pernah mendengar ajaran seperti itu.

Dengan bersemangat Saccaka segera ingin bertemu Buddha yang pernyataannya salah besar. Saccaka menuju ke Vihara Mahavana yang saat itu Buddha berada di sana. Para penduduk yang mendengar bahwa Saccaka datang dengan disertai lima ratus orang pangeran untuk berdebat dengan Buddha. Banyak orang berduyun-duyun datang ke hutan itu untuk menyaksikan adu pendapat seru itu. Setelah Saccaka memberikan salam hormat kepada Buddha, Saccaka lalu mengajukan pertanyaan yang sama seperti yang ditanyakannya kepada Yang Mulia Assaji. Buddha menjawab pertanyaan itu dengan memberi penjelasan yang menyeluruh dan terperinci mengenai dasar-dasar ajaran Beliau, dan menunjukkan kekeliruan pandangan Saccaka. Setelah adu pendapat berlangsung beberapa saat, Buddha mengajukan sebuah pertanyaan kepada Saccaka, tetapi dia diam tidak menjawab. Untuk kedua kalinya Buddha bertanya, Saccaka tetap diam. Kemudian, Buddha bertanya untuk ketiga kalinya, dia juga tetap diam tidak bisa menjawab. Akhirnya Saccaka mengakui bahwa ajaran Buddhalah yang benar, dia mengaku kalah. Keringat membasahi tubuhnya sehingga jubahnya basah kuyup. Merasa terkalahkan, Saccaka tertunduk dan diam seribu bahasa. Durmukha mengibaratkan Saccaka sebagai seekor kepiting yang semua kakinya telah patah.

Batin Buddha sudah tenang seimbang. Dalam diri-Nya sudah terbebas dari menang dan kalah sehingga Beliau tidak merasa tinggi hati karena kemenangan-Nya. Beliau malah membawa lawan bicara menuju kepada pemahaman yang benar.

 

Prinsip-Prinsip Moral Buddha dalam Beradu Pendapat

Ajaran Buddha mengajarkan kita beberapa prinsip moral yang dapat diterapkan dalam beradu pendapat, yaitu:

1.      Metta (Cinta Kasih): Beradu pendapatlah dengan penuh cinta kasih dan kasih sayang. Hindari menggunakan kata-kata kasar atau menyakitkan.

2.      Karuna (Belas Kasih): Pahamilah sudut pandang orang lain dan dengarkan pendapat mereka dengan penuh perhatian.

3.      Mudita (Kegembiraan Berbagi): Berbagilah pengetahuan dan pengalaman dengan orang lain secara terbuka dan jujur.

4.      Upekkha (Keseimbangan Mental): Tetap tenang dan sabar saat beradu pendapat. Hindari terbawa emosi atau amarah.

 

Berikut adalah beberapa tips untuk menerapkan prinsip-prinsip moral Buddha dalam beradu pendapat:

1.      Siapkan diri dengan baik sebelum beradu pendapat. Peserta didiki topik yang akan dibahas dan susunlah argumen dengan matang.

2.      Dengarkan dengan penuh perhatian saat orang lain berbicara. Jangan menyela atau memotong pembicaraan mereka.

3.      Sampaikan pendapat dengan sopan dan jelas. Hindari menggunakan kata-kata kasar atau menyakitkan.

4.      Bersikaplah terbuka terhadap pendapat orang lain. Pertimbangkan sudut pandang mereka dan coba untuk memahami dari mana mereka berasal.

5.      Carilah solusi yang saling menguntungkan. Berusahalah untuk mencapai kesepakatan yang adil dan memuaskan semua pihak.

 

Sumber Belajar:

Nurwito dan Umarnatu. 2022. Buku Peserta didikan Pendidikan Agama Buddha kelas 6. Pusat Perbukuan Kemendikbud.

https://buku.kemdikbud.go.id/katalog/pendidikan-agama-buddha-dan-budi-pekerti-untuk-sd-kelas-vi

https://www.majalesalamat.com/lifestyle/8-secrets-of-people-who-never-get-sick/

https://www.liputan6.com/on-off/read/5361242/jangan-harap-menangkan-adu-argumen-jika-tak-punya-keterampilan-ini-apa-saja

Tidak ada komentar:

Posting Komentar