MEMBERI NASIHAT
(Seni Mendengar_Pelajaran dari Kosambi)
Bersyukur bagi kita yang masih mempunyai pendengaran bagus. Dengan mendengarkan, kita bisa menerima masukan atau nasihat dari orang lain. Mendengar juga berarti mau membuka diri dan menerima kelebihan dan kekurangan orang lain maupun diri sendiri. Ada orang yang susah mendengarkan atau susah dinasihati.
Suatu waktu, para bhikkhu murid Buddha di Kosambi terbentuk menjadi dua kelompok. Kelompok yang satu menjadi pengikut guru ahli vinaya, sedang kelompok lain pengikut guru ahli Dharma. Mereka sering berselisih paham sehingga menyebabkan pertengkaran. Berkali-kali Buddha menasihati mereka, tetapi tak pernah berhasil, walaupun Buddha juga mengetahui bahwa pada akhirnya mereka akan menyadari kesalahannya.
Sumber: https://samaggi-phala.or.id/naskah
dhamma/kosambi-jataka-2/
Selanjutnya, Buddha meninggalkan mereka dan menghabiskan masa vassa-Nya seorang diri di hutan Rakkhita dekat Parileyyaka. Di sana Buddha dibantu/dilayani oleh gajah Parileyyaka dan seekor kera. Umat di Kosambi kecewa dengan kepergian Buddha. Mendengar alasan kepergian Buddha, mereka menolak memberikan kebutuhan hidup para bhikkhu di Kosambi. Karena hampir tak ada umat yang menyokong kebutuhan para bhikkhu, mereka hidup menderita. Akhirnya, mereka menyadari kesalahan mereka, dan menjadi rukun kembali seperti sebelumnya. Umat tetap tidak memperlakukan mereka sebaik seperti semula, sebelum para bhikkhu mengakui kesalahan mereka di hadapan Buddha. Tetapi, Buddha berada jauh dari mereka dan waktu itu masih pada pertengahan masa musim hujan (vassa). Terpaksalah para bhikkhu menghabiskan vassa mereka dengan mengalami banyak penderitaan.
Demikianlah, Buddha kembali ke Vihara Jetavana di
Savatthi. Di hadapan Beliau para bhikkhu berlutut dan mengakui kesalahan
mereka. Setelah mengakui kesalahan, Buddha mengingatkan, bahwa pada suatu saat
mereka semua pasti mengalami kematian. Oleh karena itu, mereka harus berhenti
bertengkar dan jangan berlaku seolah-olah mereka tidak akan pernah mati. Buddha
membabarkan syair 6 berikut ini: “Sebagian besar orang tidak mengetahui bahwa,
dalam pertengkaran mereka akan binasa; tetapi mereka, yang dapat menyadari
kebenaran ini; akan segera mengakhiri semua pertengkaran. Semua bhikkhu
mencapai tingkat kesucian Sotapatti, setelah khotbah Dharma itu berakhir.
Referensi: Nurwito dan Umarnatu. 2022. Buku Peserta didikan
Pendidikan Agama Buddha kelas 6. Pusat Perbukuan Kemendikbud.
https://samaggi-phala.or.id/naskah-dhamma/kosambi-jataka-2/
https://samaggi-phala.or.id/tipitaka/kisah-pertengkaran-di-kosambi/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar