Tujuan Pembelajaran : Memahami keragaman upacara puja dan meditasi ketenangan dari berbagai aliran atau tradisi Agama Buddha.
KKTP :
Mengidentifikasi upacara puja dalam tradisi Theravada dan makna serta tujuan dari upacara tersebut.
Kegiatan
Inti:
a.
Pelajar bersama dengan guru mengamati gambar
puja dalam tradisi Theravada.
b.
Pelajar mendeskripsikan gambar tersebut dengan
bercerita apa saja yang ada pada gambar
tersebut.
c.
Pelajar mendiskusikan puja dalam tradisi
Theravada serta makna dan tujuannya dengan membentuk kelompok yang didampingi
oleh guru.
d.
Pelajar membacakan hasil diskusinya ke depan
kelas secara bergantian per kelompok.
e. Pelajar bersama guru membuat kesimpulan tentang puja dalam tradisi Theravada.
f. Pelajar mencatat hal yang penting dari materi tersebut.
Materi Pembelajaran:
A.
Pengertian puja dalam tradisi Theravada
B.
Jenis-jenis puja dalam tradisi Theravada
C.
Makna puja dalam tradisi Theravada
D.
Tujuan Puja dalam tradisi Theravada
A. Pengertian
Puja
Puja dalam agama
Buddha adalah bentuk penghormatan, persembahan, dan pemujaan yang dilakukan
sebagai bagian dari praktik spiritual. Kata “puja” berasal dari bahasa Pali dan Sanskerta yang berarti
"penghormatan" atau "persembahan". Puja dapat berupa ritual
atau upacara seseorang untuk menunjukkan rasa hormat dan penghormatan kepada
Triratna (Tiga Permata), yaitu: Buddha, Dhamma, dan Sangha.
•
Buddha: Sang Guru yang mencapai Pencerahan dan
menunjukkan jalan menuju pembebasan.
•
Dhamma: Ajaran atau Kebenaran yang diajarkan
oleh Buddha untuk mencapai Pencerahan.
•
Sangha: Perkumpulan Bhikkhu yang telah mencapai
Pencerahan, yang melestarikan/menjaga dan mempraktikkan ajaran Buddha.
B. Jenis
Puja
Puja dalam tradisi
Theravada terdiri atas dua cara penghormatan yaitu amisa puja dan patipatti puja.
1. Amisa puja adalah
penghormatan dengan materi atau persembahan. Materi atau persembahan biasanya
diletakkan di altar seperti lilin, dupa, air, bunga, dan buah-buahan/makanan.
Dalam kitab Mangalattha-dipani menguraikan empat hal yang perlu diperhatikan
dalam menerapkan amisa puja ini,
yaitu:
a. Sakkara: memberikan persembahan materi;
b. Garukara: menaruh kasih serta bakti
terhadap nilai-nilai luhur;
c. Manana: memperlihatkan rasa
percaya/yakin;
d. Vandana: menguncarkan ungkapan atau kata
persanjungan.
2. Patipatti puja
Patipatti puja
adalah penghormatan dengan mempraktikkan ajaran Buddha seperti melalui praktik
meditasi dan pengembangan batin. Menurut Kitab
Paramatthajotika, yang dimaksud “pelaksanaan” dalam hal ini adalah:
a. Berlindung
pada Tisarana (Tiga Perlindungan), yakni Buddha, Dhamma, dan Sangha.
b. Bertekad
untuk melaksanakan Pancasila Buddhis (lima kemoralan) yakni
pantangan/menghindari membunuh, mencuri,
berbuat asusila, berkata yang tidak benar, mengonsumsi makanan/minuman yang
melemahkan kewaspadaan.
c. Bertekad
melaksanakan atthanga sila (delapan
Sila) pada hari-hari uposatha.
d. Berusaha
menjalankan parisuddhi sila
(kemurnian Sila), yaitu:
- Pengendalian
diri dalam tata tertib (patimokkha-samvara);
- Pengendalian
enam indera (indriya-samvara);
- Mencari
nafkah hidup secara benar (ajiva-parisuddhi);
- Pemenuhan
kebutuhan hidup yang layak (paccaya-sanissita).
C. Makna
Puja
Puja dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah upacara penghormatan kepada dewa-dewa.
Puja juga dapat diartikan sebagai upacara pemujaan atau penghormatan kepada
sesuatu atau benda yang dianggap suci atau keramat. Puja dalam pengertian umum
bermakna penghormatan sebagai sarana permohonan atau meminta-minta. Contohnya;
puja kepada benda-benda seperti pohon, batu, pusaka yang dipercaya memiliki
kekuatan yang luar biasa. Sedangkan dalam agama Buddha, puja adalah praktik
penghormatan dan persembahan yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada
Triratna. Melalui puja, umat Buddha mengembangkan keyakinan, membersihkan
pikiran, menumbuhkan kebajikan, dan merenungkan ketidakkekalan. Meski bentuk
dan detail puja berbeda-beda di setiap tradisi, tujuan utamanya adalah untuk
mencapai kedamaian batin, kebijaksanaan, dan pembebasan dari penderitaan.
Dalam agama Buddha
Theravada, puja memiliki makna penting sebagai bentuk penghormatan dan
pengabdian kepada Triratna.
Makna Puja dalam tradisi Theravada
1. Penghormatan
kepada Buddha, Dhamma, dan Sangha;
2. Pengembangan
saddha (Keyakinan);
3. Merenungkan
ketidakkekalan (anicca);
4. Pengembangan
Kebajikan; 5. Pembersihan pikiran
dan emosi.
Puja dalam tradisi Theravada tidak hanya sekadar ritual atau
penghormatan, tetapi juga memiliki makna yang mendalam untuk memperkuat keyakinan, mengembangkan kebajikan, merenungkan
ketidakkekalan, dan membersihkan pikiran dari kotoran batin. Melalui puja, umat
Buddha mendekatkan diri mereka pada ajaran Buddha dan memperkuat komitmen
mereka terhadap praktik spiritual yang membimbing menuju pencerahan.
D. Tujuan
Puja
Dalam tradisi
Theravada, puja memiliki beberapa tujuan penting yang berkaitan dengan
pengembangan spiritual, penghormatan, dan penguatan moral. Puja tidak hanya
dianggap sebagai tindakan ritualistik, tetapi juga sebagai sarana untuk
mendekatkan diri pada ajaran Buddha dan mengembangkan kualitas batin yang
positif. Berikut adalah beberapa tujuan utama dari puja dalam tradisi
Theravada:
1. Menghormati
dan merenungkan sifat-sifat luhur Triratna (Buddha, Dhamma, dan Sangha);
2. Menumbuhkan
saddha (keyakinan) kepada Triratna;
3. Membersihkan
pikiran dan meningkatkan kedamaian batin;
4. Mendekatkan
diri pada pembebasan dari penderitaan (Nibbana);
5. Memperkuat komitmen pada
praktik Jalan Mulia Berunsur Delapan;
6. Menyebarkan kebajikan kepada semua makhluk.
Simpulan
Puja
dalam tradisi Theravada adalah praktik penting untuk memperkuat keyakinan,
membersihkan pikiran, dan mengembangkan kebajikan. Baik melalui amisa puja (persembahan material) maupun
Patipatti Puja (praktik spiritual),
umat Buddha Theravada mendekatkan diri kepada ajaran Buddha dan memperkuat
komitmen mereka untuk menjalani kehidupan yang baik dan bermoral.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar