Riwayat
Singkat Masa Pembabaran Dhamma (45 Tahun)
1.
Pencerahan dan Khotbah Pertama: Pada usia
35 tahun, setelah mencapai pencerahan agung di bawah pohon Bodhi di Bodh Gaya,
Beliau menghabiskan beberapa minggu merenungkan kebahagiaan pembebasan. Beliau
kemudian pergi ke Taman Rusa di Sarnath, dekat Varanasi, dan menyampaikan
khotbah pertamanya kepada lima petapa, yang dikenal sebagai Memutar
Roda Dhamma (Dhammacakkappavattana Sutta). Ini menandai
dimulainya penyebaran ajaran-Nya.
2.
Pembentukan Sangha: Kelima petapa
tersebut menjadi siswa pertamanya, dan bersama dengan 60 siswa lainnya yang
segera menyusul, mereka membentuk Sangha (komunitas monastik)
awal. Buddha mengutus mereka ke berbagai arah untuk menyebarkan Dhamma demi
kebaikan banyak makhluk.
3.
Perjalanan Tanpa Lelah: Selama 45 tahun,
Sang Buddha melakukan perjalanan terus-menerus, kecuali selama musim hujan
(vassa), di mana Beliau berdiam di satu tempat, sering kali di vihara yang
didanai oleh para pengikut awam seperti Anathapindika dan Visakha. Beliau
berjalan kaki ribuan kilometer melintasi lembah Sungai Gangga.
4.
Ajaran Utama: Ajarannya, yang dikenal
sebagai Dhamma, berfokus pada pengakhiran penderitaan (dukkha) melalui
pemahaman Empat Kebenaran Mulia dan praktik Jalan
Tengah atau Jalan Mulia Beruas Delapan. Beliau menekankan
nilai-nilai seperti welas asih (karuna), kebijaksanaan (pañña), dan moralitas
(sila).
5.
Audiens yang Beragam: Buddha mengajar
semua lapisan masyarakat, dari raja dan bangsawan hingga orang miskin, pencuri,
dan orang-orang dari kasta rendah, tanpa memandang latar belakang sosial
mereka.
6.
Peristiwa Penting: Selama periode ini,
beberapa peristiwa penting terjadi, termasuk kunjungan kembali ke Kapilavatthu
(kota asalnya), mukjizat ganda di Savatthi, dan pembabaran Abhidhamma di surga
Tavatimsa.
Berikut penjelasan rinci mengenai tiga
peristiwa penting tersebut:
·
Kunjungan Kembali ke Kapilavatthu:
Setelah pencerahan, Buddha mengunjungi kota asalnya, Kapilavatthu, atas
undangan Raja Suddhodana (ayahnya). Awalnya, penduduk istana dan anggota klan
Sakya enggan memberi hormat kepadanya karena usia Sang Buddha yang lebih muda
dari beberapa kerabatnya. Buddha kemudian melakukan beberapa mukjizat untuk
menunjukkan pencapaian spiritualnya. Selama kunjungan ini, putranya, Rahula,
ditahbiskan menjadi samanera (calon bhikkhu) dan banyak anggota keluarganya,
termasuk saudara tirinya Nanda dan sepupunya Ananda, menjadi pengikutnya yang
setia.
·
Mukjizat Ganda di Savatthi: Ini adalah
mukjizat paling terkenal yang dilakukan Sang Buddha, terjadi di Savatthi, di
hadapan Raja Pasenadi dan banyak penonton. Ketika ditantang oleh guru-guru lain
untuk menunjukkan kemampuan spiritualnya, Sang Buddha melakukan "Mukjizat
Ganda" (Yamaka-patihariya): api dan air memancar secara simultan dari
tubuhnya, secara bergantian dari sisi kanan dan kiri, depan dan belakang,
sambil Beliau berjalan di udara. Peristiwa ini mengokohkan keunggulan
spiritualnya dan membungkam para penentangnya.
·
Pembabaran Abhidhamma di Surga Tavatimsa:
Pada suatu musim hujan (vassa), Sang Buddha naik ke alam surga Tavatimsa untuk
mengajarkan Dhamma yang lebih mendalam, yang dikenal sebagai Abhidhamma (ajaran
tertinggi/filsafat), sebagai bentuk penghormatan kepada ibunya, Ratu Maya, yang
telah terlahir kembali di sana sebagai dewa. Beliau mengajar para dewa selama
tiga bulan dan kembali ke bumi melalui tangga permata di Sankassa. Peristiwa
ini menunjukkan kemampuan metafisik Sang Buddha untuk berinteraksi dengan alam
lain dan menekankan kedalaman ajarannya.
- Parinibbana (Wafat): Di tahun terakhirnya,
pada usia 80 tahun, setelah memberikan khotbah terakhirnya dan memastikan
ajarannya telah tertanam kuat, Buddha Gautama mencapai Parinibbana (wafat
akhir, terbebas sepenuhnya dari siklus kelahiran kembali) di Kushinagar.
