Selasa, 04 Agustus 2020

PELAJARAN 2 : Dasa Paramita (Bala dan Jhana Paramita)

Pertemuan 5
Bala dan Jhana Paramita

Syair dhammapada: Kodha Vagga; 223:
Kalahkan kemarahan dengan cinta kasih, dan kalahkan kejahatan dengan kebajikan.
Kalahkan kekikiran dengan kemurahan hati, dan kalahkan kebohongan dengan kejujuran.

Kisah Bhikkhu Dhammika

Dhammika tinggal di Savatthi bersama istrinya. Suatu hari, ia berkata kepada istrinya yang sedang hamil bahwa ia berkeinginan untuk menjadi seorang bhikkhu. Istrinya memohon kepadanya untuk menunggu sampai kelahiran anak mereka. Ketika anak tersebut lahir, ia kembali meminta kepada istrinya untuk memperbolehkannya pergi. Sekali lagi istrinya memohon kepadanya untuk menunggu sampai anak tersebut dapat berjalan.

Kemudian Dhammika berkata kepada dirinya sendiri, “Tidak ada gunanya bagiku meminta persetujuan dari istriku untuk menjadi bhikkhu, saya harus berjuang untuk kebebasanku sendiri!” Setelah membuat keputusan teguh, ia meninggalkan rumahnya untuk menjadi seorang bhikkhu. Sang Buddha memberikan objek meditasi kepadanya, dan ia mempraktekkan meditasi dengan sungguh-sungguh dan rajin, tak lama kemudian ia menjadi seorang arahat.

Beberapa tahun setelah itu, beliau menengok rumahnya dengan maksud untuk mengajarkan Dhamma kepada istri dan anaknya. Anaknya menjadi bhikkhu dan kemudian mencapai tingkat kesucian arahat. Sang istri kemudian berkata, “Sekarang suami dan anakku telah meninggalkan rumah, saya lebih baik pergi juga.” Dengan dasar pertimbangan kata-kata tersebut, ia juga meninggalkan rumah dan menjadi bhikkhuni, dan akhirnya mencapai tingkat kesucian arahat juga.

Dalam pertemuan para bhikkhu, Sang Buddha mengatakan bagaimana Dhammika menjadi seorang bhikkhu dan mencapai tingkat kesucian arahat, bagaimana Dhammika berupaya membuat anak dan istrinya menjadi arahat juga. Kepada mereka Sang Buddha bersabda, “Para bhikkhu, orang bijaksana tidak menginginkan kekayaan dan kemakmuran yang diperoleh dengan cara tidak benar. Apakah hal itu dilakukan demi dirinya sendiri atau demi orang lain. Ia hanya bekerja untuk tujuan membebaskan dirinya dari roda tumimbal lahir (samsara) dengan cara memahami Dhamma dan hidup sesuai dengan Dhamma.”

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 84 berikut ini:
Seseorang yang arif tidak berbuat jahat demi kepentingannya sendiri ataupun orang lain, demikian pula ia tidak menginginkan anak, kekayaan, pangkat atau keberhasilan dengan cara yang tidak benar.
Orang seperti itulah yang sebenarnya luhur, bijaksana, dan berbudi.

A.    Bala Paramita
Bala Paramita adalah kesempurnaan mengenai kekuatan atau kemampuan. Bala merupakan kekuatan Bodhisatva yang ditunjukkan dengan meningkatkan kemauan, pemikiran, kebijaksanaan, praktik, kesabaran, dan pengetahuannya.

B.    Jhana Paramita
Jhana Paramita adalah kesempurnaan mengenai pengetahuan. Hampir sama dengan prajna tapi jhana lebih mengacu pada pengetahuan intelektual,sedangkan prajna mengacu pada intuisi, atau pengetahuan yang didapat dari pengalaman.

Dasa Paramita
  1. Dana-Paramita: Kemurahan hati Berbagi kepada sesama dan tidak melekat dengan apa yang dimiliki atau serakah.
  2. Sila-Paramita: Berbudi baik dan menjalankan moralitas (Pancasila Buddhis dan diatasnya)
  3. Nekkhama-Paramita: Pelepasan Keduniawian atau Ikhlas dalam menjalani hidup bukan meratapi nasib ataupun takdir.
  4. Panna-Paramita: Kebijaksanaan dalam bertindak maupun mengambil keputusan.
  5. Viriya-Paramita: Semangat dalam menjalani kehidupan
  6. Khanti-Paramita: Kesabaran dalam melewati rintangan dan godaan dalam lingkaran samsara.
  7. Sacca-Paramita: Kebenaran atau kejujuran dalam berucap dan bertindak.
  8. Adhittana-Paramita: Kebulatan tekad dalam mencapai mimpi dan harapan.
  9. Metta-Paramita: Cinta Kasih atau berbagi kebahagian secara menyeluruh (universal)
  10. Upekkha-Paramita: Keseimbangan Batin atau tidak goyah layaknya batu karang

Sad Paramitha adalah enam jalan keutamaan untuk menuju keluhuran. sad paramita terdiri dari: 

1.       Dana Paramitha artinya memberi dana atau sedekah baik berupa material maupun spiritual.

2.       Sila Paramitha artinya berpikir, berkata dan berbuat yang baik, suci dan luhur.

3.       Ksanti Paramitha pikiran tenang, tahan terhadap penghinaan dan segala penyebab sakit, terhadap orang dengki atau perbuatan tak benar dan kata-kata yang tidak baik.

4.       Wirya Paramitha artinya pikiran, kata-kata dan perbuatan yang teguh, tetap dan tidak berobah, tidak mengeluh terhadap apa yang dihadapi. Jadi yang termasuk Wirya Paramita ini adalah keteguhan pikiran (hati), kata-kata dan perbuatan untuk membela dan melaksanakan kebenaran.

5.       Dhyana Paramitha artinya niat mempersatukan pikiran untuk menelaah dan mencari jawaban atas kebenaran. Juga berarti pemusatan pikiran, terutama kepada Hyang Widhi dan cita-cita luhur untuk keselamatan.

6.       Pradnya Paramitha artinya kebijaksaanaan dalam menimbang-nimbang suatu kebenaran.

Penjabaran mengenai Dasa Paramita

1. Dana: beramal, bermurah hati atau berderma. Dana ini dibagi menjadi empat yaitu; Amisedana: dana yang diberikan dalam bentuk materi, atau barang seperti uang, pakaian, bahan kebutuhan pokok, dsb, Dhammadana; beramal kebajikan yang diberikan dengan melaksanakan dan memberikan penerangan dhamma melalui kotbah. Dhammadesana merupakan amal kebajikan atau dana yang tertinggidan paling besar jasa dan pahalanya. Buddha bersabda “Sabbadanam Dhammadanam Jinati” artinya pengorbanan dan amal kebajikan yang tertinggi adalah persembahan kebenaran dhamma. Atidana yaitu mengorbankan ke kepentingan diri sendiri untuk mencapai cita-cita yang luhur, demi kepentingan umat manusia, contohnya usaha Pangeran Siddharta. Mahatidana yaitu amal kebajikan berupa pengorbanan jiwa  dan raga untuk mencapai cita-cita luhur, contohnya para pahlawan. (donor darah, ginjal, kornea mata, sum-sum tulang)

2. Sila: kemoralan, hidup dengan melaksanakan sila, hidup bersusila, melakukan perbuatan, ucapan dan mata pencaharian benar. Ada beberapa tingkatan sila, sesuai dengan orang yang melaksankannya, yaitu Pancasila, Buddhis; sila yang dilaksanakan oleh upasaka dan upasika dalam kehidupan sehari-hari. (sila umat awam), Atthasila, yaitu sila yang dilaksanakan oleh upasaka dan upasika pada hari-hari tertentu contohnya pada bulan gelap dan bulan terang, tanggal 1 dan 15 menurut lunar kalender. Dasasila dan Majjhimmasila: sila yang dijalankan oleh Samanera dan Samaneri. Patimokhasila: sila utama yang tertinggi tingkatannya dibadingkan sila lainnya. Menurut naskah pali, bagi mazab Theravada terdiri dari 227 sila dan menurut naskah sansekerta, untuk Bhikkhu mazab Mahayana terdiri dari 250 Sila.

3. Nekkhama: Menghindari diri dari nafsu indra. Sebagai umat Buddha sedapat mungkin mengendalikan indria kita. Nafsu kalau di turuti tidak ada puas-puasnya. Mengendalikan mata, mengendalikan telinga dan sebagainaya.

4. Panna: kebijaksanaan, mengetahui sebab dan akibat, mengerti keadaan dan sesuatu berdasarkan kebenaran. Melihat proses kehidupan ini dengan bijak, misalnya melihat keadaan diri kita atau orang lain yang menderita tanpa menyalahkan siapapun.

5. Viriya : berusaha dengan sekuat tenaga, tidak takut akan rintangan. Rintangan adalah sebagai cambuk untuk maju. Semangat adalah modal untuk menjalani hidup ini, bekerja keras.

6. Khanti adalah kesabaran. Sabar dalam menghadapi segala sesuatu. Mampu mengendalikan pikiran, sehingga kita bebas dari kekotoran batin.

7. Sacca adalah kebenaran,  benar dalam perbuatan, perkataan dan pikiran.

8. Adhitthana adalah tekad yang mantap, memutuskan sesuatu dengan tepat, dan berbuat sesuatu selesai pada waktunya. Tidak menunda-nunda pekerjaan.

9. Metta adalah cinta kasih tanpa keinginan memiliki, cinta kasih yang ditujukan kepada semua makhluk (31 alam kehidupan) tanpa membedakan bangsa, ras, agama dan sebagainya (cinta kasih yang universal)

10.Upekkha adalah batin yang tak tergoyahkan, batin yang terarah pada kebenaran Dhamma. Titik keseimbangan, tidak terpengaruh pada hal yang positif maupun yang negatif.


kn

Senin, 03 Agustus 2020

PELAJARAN 2 : Dasa Paramita (Upaya Kausala dan Pranidhana-Paramita)

Pertemuan 4
Upaya Kausala dan Pranidhana-Paramita

Orang bijaksana (76)

Seandainya seseorang bertemu orang bijaksana yang mau menunjukkan dan memberitahukan kesalahan-kesalahannya, seperti orang menunjukkan harta karun, hendaklah ia bergaul dengan orang bijaksana itu.


Kisah Bhikkhu Radha 

Radha adalah seorang brahmana miskin yang tinggal di vihara. Ia hanya melakukan sedikit pelayanan untuk para bhikkhu. Atas pelayanannya ia memperoleh makanan, pakaian dan kebutuhan lainnya. Tidak ada seorang pun yang mendorongnya menjadi seorang bhikkhu, meskipun ia mempunyai keinginan yang besar untuk menjadi bhikkhu.

Suatu hari, ketika hari menjelang pagi. Sang Buddha mengamati dunia dengan kemampuan batin luar biasa-Nya. Dilihat-Nya brahmana tua itu mempunyai kesempatan untuk mencapai tingkat kesucian arahat.

Paginya, Sang Buddha pergi menemui brahmin tua itu dan mengetahui bahwa para bhikkhu di vihara tersebut tidak menginginkan brahmin tua itu bergabung dalam pasamuan bhikkhu.

Sang Buddha mengundang para bhikkhu dan bertanya, “Apakah ada di antara para bhikkhu di sini yang mengingat hal baik yang pernah dilakukan oleh orang tua ini?”

Atas pertanyaan ini Yang Ariya Sariputta menjawab “Bhante, saya mengingat satu peristiwa ketika orang tua itu memberikan sesendok nasi kepada saya”.

“Jika demikian”, Sang Buddha berkata: “Tidakkah seharusnya kamu menolong dermawan itu untuk membebaskannya dari penderitaan hidup?”

Yang Ariya Sariputta setuju untuk menjadikan orang tua itu sebagai seorang bhikkhu dan kemudian menerima sebagaimana mestinya. Yang Ariya Sariputta membimbing bhikkhu tua itu dan bhikkhu tua itu mengikutinya dengan sungguh-sungguh. Dalam waktu beberapa hari, bhikkhu tua itu telah mencapai tingkat kesucian Arahat.

Ketika Sang Buddha datang untuk menemui para bhikkhu, mereka melaporkan bagaimana tekunnya bhikkhu tua itu mengikuti bimbingan Yang Ariya Sariputta. Kepada mereka, Sang Buddha menjawab bahwa para bhikkhu seharusnya mudah dibimbing seperti Radha dan tidak marah ketika mendapat celaan atas kesalahan atau kegagalannya.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 76 berikut ini:

 

Seandainya seseorang bertemu orang bijaksana yang mau menunjukkan dan memberitahukan kesalahan-kesalahannya, seperti orang menunjukan harta karun, hendaklah ia bergaul dengan orang bijaksana itu. Sungguh baik dan tidak tercela bergaul dengan orang yang bijaksana.


A. Upaya Kausala Paramita
Upaya Kausala Paramita adalah usaha seorang bodhisatva, dalam kedudukannya sebagai seorang guru (pembimbing dhamma), dengan kemampuan atau kebijaksanaan dalam pemilihan atau cara bijaksana untuk mengubah orang lain atau membantu mereka (Suwarto,1995;282).

Baca kisah tentang "Kanamata" (buku paket hal.57)
Kanamata adalah umat awam berbakti, murid Sang Buddha.

Kisah Kanamata

Kanamata adalah umat awam berbakti, murid Sang Buddha. Anaknya yang bernama Kana telah menikah dengan seorang pemuda dari desa lain. Suatu ketika Kana menjenguk ibunya untuk beberapa waktu, suaminya mengirim pesan agar ia segera pulang ke rumah. Ibunya berkata kepadanya untuk menunggu beberapa hari sebab ia ingin membuatkan daging manis (dendeng) untuk suami Kana. Esoknya Kanamata membuat sejumlah dendeng, tetapi ketika empat bhikkhu berpindapatta di rumahnya, ia mendanakan sejumlah daging kepada mereka. Empat bhikkhu tersebut berkata kepada bhikkhu lainnya tentang persembahan dana makanan dari rumah Kanamata, mereka juga melakukan pindapatta di rumah Kanamata. Kanamata sebagai pengikut dan murid Sang Buddha mempersembahkan dendengnya kepada para bhikkhu yang datang satu persatu. Pada akhirnya tidak ada yang tersisa untuk Kana dan ia tidak dapat pulang ke rumahnya pada hari itu.

Hal yang sama terjadi pada dua hari berikutnya, ibunya membuat sejumlah dendeng, para bhikkhu datang berpindapatta di rumahnya, ia mempersembahkan dendengnya kepada para bhikkhu, sehingga tidak ada tersisa untuk dibawa pulang anaknya, dan anaknya tidak dapat pulang ke rumahnya.

Pada hari ketiga, suaminya mengirimkan pesan untuknya. Pesan yang merupakan suatu peringatan keras, jika ia tidak pulang ke rumah esok hari, maka suaminya akan menikah dengan wanita lain.

Tetapi pada esok harinya, Kana tetap tidak dapat pulang ke rumahnya, sebab ibunya mempersembahkan semua dendengnya untuk para bhikkhu. Peringatan keras tadi menjadi kenyataan, suami Kana menikah dengan wanita lain.

Kana menjadi tidak senang terhadap para bhikkhu. Ia beranggapan bahwa mereka yang menjadi gara-gara suaminya menikah lagi. Seringkali ia mencaci maki para bhikkhu, sehingga para bhikkhu akhirnya menjauh dari rumah Kanamata.

Mendengar perihal Kana, Sang Buddha pergi ke rumah Kanamata. Di sana Kanamata mempersembahkan sejumlah bubur nasi. Setelah menyantap persembahan itu, Sang Buddha menemui Kana dan bertanya kepadanya, “Apakah para bhikkhu menerima apa yang diberikan, atau yang tidak diberikan kepada mereka?” Kana menjawab bahwa para bhikkhu menerima apa yang diberikan kepada mereka, dan menambahkan bahwa “Mereka tidak bersalah, saya yang salah.” Jadi ia mengakui kesalahannya dan kemudian memberi hormat kepada Sang Buddha.

Sang Buddha kemudian memberikan khotbah. setelah mendengarkan khotbah itu, Kana mencapai tingkat kesucian sotapatti.

Pada perjalanan pulang ke vihara, Sang Buddha bertemu dengan Raja Pasenadi dari Kosala. Beliau mengatakan perihal Kana dan sikapnya yang tidak baik terhadap para bhikkhu. Raja Pasenadi berkata kepada Sang Buddha agar dapat mengajarkan kebenaran (Dhamma) kepadanya. Sang Buddha menjawab “Ya, saya telah mengajarkan Dhamma kepadanya, dan saya juga telah membuat ia menjadi kaya dalam kehidupan mendatang.” Kemudian Raja Pasenadi berjanji kepada Sang Buddha untuk membuatnya kaya dalam kehidupan sekarang.

Raja mengirimkan orang-orangnya untuk menjemput Kana dengan tandu. Ketika Kana tiba di istana, raja mengumumkan kepada para menterinya “Siapa yang dapat memberi kesenangan hidup kepada anakku Kana, silahkan merawatnya.” Salah seorang menteri dengan sukarela mengadopsi Kana sebagai anaknya, memberinya kekayaan dan berkata kepadanya, “Kamu boleh memberikan dana sebanyak yang kamu suka.” Setiap hari Kana memberikan persembahan dana kepada para bhikkhu di empat pintu kota.

Ketika berkata tentang Kana dan kemurahan hatinya dalam memberikan dana, Sang Buddha bersabda, “Para bhikkhu pikiran Kana sebelumnya diselimuti kabut dan lumpur, sekarang telah menjadi jernih dan tenang oleh kata-kata-Ku.”

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 82 berikut ini:

Bagaikan danau yang dalam,
airnya jernih dan tenang.
Demikian pula batin para orang bijaksana,
menjadi tentram karena mendengarkan Dhamma.


B. Pranidana Paramita

Pranidana Paramita merupakan kesempurnaan melatih keteguhan dalam mencapai cita-cita.
Bodhisatva bertujuan pada satu tujuan yakni mencapai kebudaan, selain upaya pencapaian penerangan juga kemajuan dalam keselamatan dari semua makhluk.

PELAJARAN 2: Dasa Paramita (Dhyana dan Prajna Paramita)

Pertemuan 3
Dhyana dan Prajna Paramita

syair dhammapada, Pandita Vagga, 82; 
bagaikan danau yang dalam, airnya jernih dan tenang.
demikian pula batin para orang bijaksana,
menjadi tentram karena mendengarkan dhamma.

A. Dhyana Paramita
Dhyana berarti usaha-usaha untuk mengalami dan memperoleh ketentraman dan ketenangan (samatha) yang berkaitan dengan konsentrasi mental atau meditasi (suwarto, 1995;252).

Brahma Vihara :
       Cinta kasih (maitri/metta)
       Kasih sayang (karuna)
       Simpatik/berbudi luhur (mudita)
•    Ketenangan hati (upeksha)

Kisah Mahakappina

       Mahakappina = raja dari Kukutavati; punya permaisuri bernama Anoja; punya 1000 orang menteri;

       Yojana (bahasa sanskerta): sebuah unit atau satuan untuk mengukur jarak. Satu yojana kurang lebih pangjangnya sekitar 15 kilometer (https://id.m.wikipedia.org).

       Prajna Paramita merupakan Paramita yang sangat penting yaitu perbuatan luhur mengenai kebijaksanaan.


PELAJARAN 1: Keajaiban Pencapaian Penerangan Sempurna

PERTEMUAN 1

Lima Mimpi Pertapa Gotama

Panduan : Duduk Hening

·      Ayo, kita melakukan duduk hening lebih kurang 5 sampai 10 menit. Duduklah dengan santai, amati diri kita, atur pernapasan, dan lakukan hal berikut:

·      “Napas masuk....semoga semua makhluk berbahagia”

·      “Napas keluar....semoga semua makhluk berbahagia”

·      “Napas masuk....tercapailah cita-citaku”

·      “Napas keluar....tercapailah cita-citaku”

Buddha telah mengajarkan kita untuk membersihkan diri dari kekotoran, baik dari berpikir, berbicara, maupun dalam perbuatan badan jasmani. Kita harus berusaha dengan tekun untuk mencapai nibbana dengan selalu mengembangkan akar perbuatan baik (Alobha,Amoha, Adosa).

Inti cerita “Lima Mimpi Pertapa Gotama” “Gotama Meninggalkan Pertapaan Penyiksa Diri”

·       Saat melakukan pertapaan, Gotama menyadari penyiksaan diri yang berlebihan tidak membawa manfaat apa-apa. Oleh karena itu beliau memutuskan untuk makan secukupnya.

·       Melihat kejadian tersebut, lima pertapa tersebut beranggapan Gotama telah gagal berlatih dan meninggalkannya.

Lima Mimpi

1.     Tertidur di atas permukaan tanah dengan pegunungan himalaya sebagai bantalnya, tangan kiri-Nya di Samudra Timur, tangan kanan-Nya di Samudra Barat, dan kedua kaki-Nya di Samudra Selatan.

2.     Sejenis rumput yang disebut tiriya dengan tangkai merah berukuran sebuah gandar sapi muncul dari pusar-Nya dan sewaktu Beliau melihat, rumput tersebut tumbuh, tinggi dan lebih tinggi hingga mencapai langit, angkasa luas, seribu yojanà ke atas dan diam di sana

3.     Sekumpulan ulat berbadan putih dan kepala hitam perlahan-lahan merayap ke atas kaki-Nya, menutupi dari ujung kaki hingga ke lutut-Nya.

4.     Empat jenis burung berwarna biru, keemasan, merah, dan abu-abu terbang datang dari empat penjuru dan sewaktu mereka turun dan berdiri di atas kedua kaki-Nya, semua burung-burung itu berubah menjadi putih.

5.    Berjalan mondar-mandir, ke sana kemari di setumpukan kotoran setinggi gunung tanpa menjadi kotor. Petapa Gotama menafsirkan sendiri mimpi tersebut dan berkesimpulan: ”Pasti Aku akan mencapai Kebuddhaan hari ini juga.”

PERTEMUAN 2

Dana Nasi Susu Ghana oleh Sujata

Dana adalah pemberian tulus ikhlas untuk menolong makhluk lain. Dana tidak dipaksakan, hanya dianjurkan dan termasuk salah satu dari sepuluh perbuatan baik (Dasa punna Kiriyavatthu) yang dapat dilaksanakan oleh umat buddha.

Dasa punna kiriyavatthu (Dana, Sila, Bhavana,Apacayana, Veyyavacca, Pattidana, pattanumodana, Dhammasavana, Dhammadesana, Ditthujukamma) 

Inti Cerita: “Dana Nasi Susu Ghana oleh Sujata”

         Sujata adalah putri seorang kaya yang di masa mudanya sering berdoa di bawah pohon banyan, meminta pada dewa pohon jika menikah mendapat suami kaya dan kasta yang sama. Dan terkabulah permintaan itu.

         Suatu hari, dia melakukan persembahan dan melihat Pertapa Gotama sedang duduk di bawah pohon menghadap ke timur yang dianggapnya sebagai dewa pohon.

         Pertapapun menerima persembahan yang diberikan oleh Sujata.

         Gotama pergi ke sungai Neranjara dan melempar patta nya. Keajaiban terjadi. Patta tersebut melawan arus sungai.

Lagu : “Lima orang Pertapa”

Cipt: B. Saddhanyano

Engkau yang mulia lima pertapa

Yang slalu setia pada sang Buddha

Assaji, Mahanama juga Kondanna

Bhadiya dan Vappa semua baik hatinya

PERTEMUAN 3

Munculnya Singgasana Permata yang Besar

Syair Dhammapada, Magga Vagga, 280 :

Walaupun seseorang masih muda dan kuat, namun bila ia malas dan tidak mau berjuang semasa harus berjuang, serta berpikiran lamban, maka orang yang malas dan lamban seperti itu tidak akan menemukan jalan mengantarnya pada kebijaksanaan.

Inti Cerita: “Munculnya Singgasana Permata yang Besar”

·         Melanjutkan pertapaan di Hutan Sala di tepi sungai Neranjara, meditasi anapana.

·         Sotthiya seorang brahmana pemotong rumput dan mendanakan 8 ikat rumput kepada Gotama.

·         8 ikat rumput yang dari Sotthiya berubah menjadi singgasana permata yang besar, berukuran 16 lengan, sangat indah.

·         Gotama bermeditasi menghadap timur dengan tekad kuat “meskipun hanya kulitku yang tersisa, meskipun hanya uratku yang tersisa, meskipun hanya tulangku yang tersisa, meskipun seluruh tubuhku dan seluruh daging dan darahku mengering, jika aku belum mencapai kebudaan, aku tidak akan mengubah posturku dari duduk bersila seperti sekarang ini”.

Lagu : Selamat Hari Waisak

Cipt. Darmadi Tjahjadi

Selamat hari waisak, selamat hari waisak

Slamat hari suci waisak semua

Slamat berbahagia salam sejahtera

Selamat hari suci waisak

REFF :

Slamat-slamat bahagia

Damai tentram sentosa

Damai bahagia dalam Buddha Dharma

Selamat - slamat waisak

Bersama kita gembira

Dihari Tri Suci Waisak

Rangkapkan tanganmu di depan dada mu

Dan ucapkan semoga berbahagia

Salam dalam Dharma untuk semuanya

Selamat hari suci waisak

REFF :

S’lamat - selamat bahagia

Damai tentram sentosa

Damai bahagia dalam Buddha Dharma

Selamat - selamat waisak

Bersama kita gembira

Selamat hari suci Waisak 

PERTEMUAN 4

Keajaiban lainnya dalam Pencapaian Penerangan Sempurna

         Syair Dhammapada; Magga Vagga; 273:

         Diantara semua jalan, maka ‘jalan mulia berfaktor delapan’ adalah yang terbaik;

         Diantara semua kebenaran, maka ‘empat kebenaran mulia’ adalah yang terbaik.

         Diantara semua keadaan, maka keadaan tanpa nafsu adalah yang terbaik; dan

Ø  Diantara semua makhluk hidup, maka orang yang ‘melihat’ adalah yang terbaik.

Ø  Setelah menang melawan dewa mara penggoda, Bodhisatta menembus tiga pengetahuan (vijja) yaitu:

Ø  Pengetahuan mengenai kehidupan-kehidupan lampau (Pubbenivasanussati nana);

Ø  Mata dewa (debbacakkhu nana), dan pengetahuan akan padamnya perbuatan buruk, dan mencapai kebuddhaan di malam itu juga dalam bulan purnama Vesakha.

Pangeran Siddharta lahir pada bulan waisak tahun 623 SM. Menikah pada usia 16 tahun, dan meninggalkan istana 29 tahun. Bertapa 6 tahun, menjadi buddha pada usia 35 tahun

Waktu

Jenis Kebijaksanaan

Pukul 18.00 – 22.00 (waktu jawa pertama)

Kebijaksanaan untuk dapat melihat dengan jelas kelahiran-kelahirannya yang dulu (Pubbeni-vasanussatinana).

Pukul 22.00 – 02.00 (waktu jaga kedua)

Kebijaksanaan untuk dapat melihat dengan terang kematian dan tumimbal lahir makhluk-makhluk sesuai dengan karmanya (Cutupapatanana).

Pukul 02.00 – 04.00 (waktu jaga ketiga)

Kebijaksanaan untuk dapat menyingkirkan secara menyeluruh semua kekotoran batin yang halus sekali (Asavakkhayana).

 

“Dengan sia-sia aku mencari pembuat rumah ini, berlari berputar-putaran dalam lingkaran tumimbal lahir, menyakitkan, tumimbal lahir yang tiada habis-habisnya. O, pembuat rumah, sekarang telah kuketahui engkau tak akan dapat membuat rumah lagi. Semua atapmu telah kurobohkan, batinku sekarang mencapai keadaan Nibbana dan berakhirlah semua nafsu keinginan”

 Lagu : Pekik Kemenangan

(Cipt. Darmadi Tjahjadi)

       Melalui banyak kelahiran
dalam samsara
Mengembaralah aku mencari
tapi tak menemukan
Pembuat rumah ini

       Menyedihkan kehidupan
yang berulang-ulang
Oh pembuat rumah
kamu t’lah terlihat

       Kau tak akan membuat rumah lagi
Semua rakit-rakitmu patah
Balok utamamu telah dihancurkan
Batin mencapai keadaan
tanpa syarat

Tercapailah akhir dari pada Tanha


Memperhatikan dan menyimak cerita Keajaiban Pertapa Gotama Mencapai Penerangan Sempurna dapat dirangkum sebagai berikut:

  1. Pertapa Gotama dengan usaha yang sangat kuat serta pantang menyerah melakukan upaya yang gigih dan sumpah untuk dapat mencapai yang dicita-citakannya, yaitu dalam rangka mencapai kebudaan.
  2. melalui proses yang panjang dengan berbagai godaan Mara yang jahat akhirnya Pertapa Siddharta berhasil menjadi manusia suci yang telah terbebas dari segala nafsu.
  3. Pada saat Pertapa Siddharta menjadi Buddha terjadi berbagai macam keajaiban, antara lain seperti bumi bergetar, diudara terdengar musik yang merdu, pohon-pohon mendadak berbunga dan menyebarkan bau harum, binatang-binatang di hutan yang biasanya bermusuhan pada waktu itu dapat hidup berdampingan dengan damai.

PELAJARAN 2 : Dasa Paramita (Ksanti dan Virya)

Pertemuan 2
Ksanti dan Virya Paramita

Dhammapada, syair 197
sungguh bahagia jika kita hidup tanpa membenci,
diantara orang-orang yang membenci;
diantara orang-orang yang membenci, kita hidup tanpa benci.

A. Ksanti Paramita
Ksanti Paramita adalah merupakan suatu perbuatan luhur tentang kesabaran. ksanti paramita mencakup tiga pengertian, yaitu kesabaran, ketabahan, dan ketulusan hati.

Kisah tentang praktek kesabaran (Ksanti paramita)


B. Virya Paramita
Pengerti virya paramita adalah merupakan perbuatan luhur berupa keuletan, ketabahan, dan semangat.
 

Minggu, 02 Agustus 2020

PELAJARAN 2 : Dasa Paramita (Dana dan Sila)

Pertemuan 1
Dana dan Sila

A. Dana Paramita
Pengertian Dana adalah perbuatan luhur tentang beramal, berkorban baik materi maupun bukan materi yang diberikan kepada orang lain dengan penuh kerelaan.

4 Jenis Dana
1. Amisadana, yaitu dana dalam bentuk materi (benda) yang kita berikan kepada orang-orang yang membutuhkan, misalnya uang, keperluan hidup dan makanan.

2. Dhammadana, yaitu dana dalam bentuk bathin, memberikan khotbah Dhamma, memberikan nasehat-nasehat kepada seseorang sesuai dengan Ajaran Sang Buddha. Menurut kitab suci Prajna Paramita dikatakan, bahwa pemberian Dhamma melebihi segala macam pemberian lainnya.

Dana yang dapat dilakukan oleh orang-orang suci, yakni Sotapanna, Sakadagami, Anagami, Arahat dan Bodhisattva adalah:

3. Atidana, Dana yang dilakukan seseorang untuk kepentingan orang banyak dengan meninggalkan segala kesenangan dan harta bendanya. Misalnya dengan pengorbanan Pangeran Siddharta meninggalkan istananya sebagai calon raja, meninggalkan istri dan anaknya untuk kebahagiaan orang banyak.

4. Mahatidana, Pengurbanan jiwa-raga seseorang untuk kepentingan/kebahagiaan orang (makhluk) lain yang sedang menderita. Misalnya dalam cerita dongeng mengenai Bodhisattva Avalokitescara dan pada cerita Jataka.

B. Sila Paramita
Pengertian Sila Paramita adalah perbuatan luhur tentang hidup bersusila, tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak baik oleh badan (kaya), ucapan (vacci), pikiran (mano/citta).
3 akar perbuatan buruk/akar kesengsaraan yang dimiliki oleh seseorang dan harus dihilangkan adalah :
1. Lobha (hawa nafsu, keserakahan, tamak) 
2. Dosa (kebencian, keinginan buruk)
3. Moha (kebodohan batin, kebingungan mengenai pikiran)

dalam melatih sila paramita, terdapat 10 pantangan yang harus dijalankan sorang bodhisattva, yaitu:
1. pantangan membunuh makhluk hidup
2. pantang mencuri
3. pantang dari ketidak sucian
4. pantang berbicara bohong
5. pantang memfitnah
6. pantang berbicara kasar
7. pantang berbicara yang tidak berarti
8. pantang terhadap sifat iri hati
9. pantang terhadap sifat dengki
10. pantang dari pandangan salah