Riwayat Hidup Siwa Utama Buddha
1. Bhikkhu Aññā Koṇḍañña: Sang
Murid Pertama
Koṇḍañña adalah brāhmaṇa termuda
yang dengan yakin meramalkan bahwa Pangeran Siddhattha pasti akan menjadi
Buddha. Ia setia menunggu dan menyertai petapa Siddhattha dalam praktik
penyiksaan diri bersama empat temannya (Pañcavaggīya). Setelah Buddha mencapai
pencerahan, Koṇḍañña menjadi manusia pertama yang menembus Dhamma saat
mendengar khotbah Dhammacakkappavattana Sūtta. Buddha mengakuinya dengan
seruan "Aññāsi vata bho Koṇḍañño" (Koṇḍañña telah mengerti), sehingga
ia dikenal sebagai Aññā Koṇḍañña. Ia ditahbiskan dengan cara Ehi Bhikkhu
Upasampada dan diakui sebagai bhikkhu yang unggul dalam usia dan pengalaman
(rataññū).
2. Bhikkhu Uruvela Kassapa:
Sang Penakluk Pemuja Api
Sebelum menjadi murid Buddha,
Uruvela Kassapa adalah petapa berambut pilin (Jaṭila) yang sangat dihormati dan
memiliki 500 pengikut pemuja api. Buddha berhasil menaklukkan kesombongannya
melalui serangkaian kesaktian dan khotbah Ādittapariyāya Sutta, yang
mengajarkan bahwa batin sedang terbakar oleh api nafsu dan kebencian. Setelah
ia dan kedua adiknya ditahbiskan, total 1.000 pengikutnya ikut menjadi bhikkhu.
Keberhasilan Uruvela Kassapa menjadi murid Buddha menjadi kunci suksesnya
penyebaran Dhamma di Kerajaan Magadha, dan ia digelar sebagai bhikkhu yang
unggul dalam memiliki banyak pengikut.
3. Bhikkhu Sāriputta: Sang
Panglima Dhamma
Lahir dengan nama Upatissa, ia
adalah sahabat karib Kolita (Moggallāna). Keduanya meninggalkan kekayaan demi
mencari kebebasan sejati dan mencapai kesucian pertama setelah mendengar bait
singkat dari Bhikkhu Assaji. Sāriputta dikenal sebagai murid yang paling cerdas
dan mampu menjelaskan ajaran Buddha dengan sangat rinci. Ia memiliki peran
besar dalam membimbing para bhikkhu baru dan sangat setia kepada gurunya.
Buddha memberinya gelar "Dhammasenapati" (Panglima Dhamma) dan
mengakuinya sebagai bhikkhu yang unggul dalam kebijaksanaan agung.
4. Bhikkhu Moggallāna: Sang
Pemilik Kesaktian Tertinggi
Kolita, yang kemudian dikenal
sebagai Moggallāna, mencapai kesucian Arahat tujuh hari setelah ditahbiskan
setelah menerima instruksi khusus dari Buddha tentang cara mengatasi kantuk
saat meditasi. Ia merupakan sahabat sejati Sāriputta dan dikenal memiliki
kemampuan spiritual (kesaktian) yang luar biasa, termasuk kemampuan mengunjungi
alam surga dan neraka. Meskipun sangat sakti, ia wafat karena dibunuh oleh
penjahat sebagai buah kamma masa lalunya, namun ia tetap menunjukkan
kesetiaannya dengan berpamitan kepada Buddha sebelum Parinibbāna. Buddha
menggelarinya sebagai bhikkhu yang unggul dalam kekuatan spiritual (kesaktian).
5. Bhikkhu Mahākassapa: Sang
Bapak Praktik Disiplin
Pipphali (Mahākassapa) dan
istrinya sepakat meninggalkan kekayaan besar mereka untuk menjadi petapa karena
menyadari bahaya hidup berumah tangga. Setelah bertemu Buddha, ia mencapai
Arahat dalam delapan hari dan dikenal karena kegigihannya menjalani praktik Dhutaṅga
(tapa ketat) seperti tinggal di hutan dan hanya memakai jubah kain bekas.
Setelah Buddha Parinibbāna, ia menjadi pemimpin yang memprakarsai Persamuhan
Agung (Konsili) Pertama untuk mengumpulkan ajaran Buddha agar tetap murni. Ia
diakui sebagai bhikkhu yang unggul dalam melaksanakan latihan tapa ketat.
6. Bhikkhu Mahākaccāna: Sang
Penafsir Dhamma
Awalnya adalah seorang penasihat
raja berkulit emas yang diutus untuk mengundang Buddha. Setelah mendengar
Dhamma, ia justru ditahbiskan menjadi bhikkhu dan meraih kemampuan luar biasa
dalam menganalisis ajaran. Ia sering menjadi tempat bertanya bagi para bhikkhu
ketika mereka tidak memahami khotbah singkat dari Buddha, karena ia mampu
menguraikan makna yang dalam secara terperinci. Ia juga berjasa menyebarkan
Dhamma di daerah terpencil seperti Avantī. Buddha menggelarinya sebagai bhikkhu
yang unggul dalam menjelaskan arti pernyataan singkat secara terperinci.
7. Bhikkhu Ānanda: Sang
Penjaga Dhamma
Sebagai sepupu Buddha, Ānanda
ditahbiskan bersama para pangeran Sākiya lainnya. Ia dipilih menjadi pendamping
tetap Buddha selama 20 tahun terakhir masa hidup Sang Guru dengan delapan
syarat khusus untuk menjaga kemurnian tugasnya. Ānanda dikenal memiliki daya
ingat yang luar biasa, mampu menghafal semua khotbah Buddha, dan sangat setia
melayani segala kebutuhan Sang Guru. Ia baru mencapai kesucian Arahat tepat
sebelum Persamuhan Agung Pertama dimulai. Buddha menggelarinya sebagai bhikkhu
yang unggul dalam lima hal: banyak belajar, daya ingat, perilaku baik, tekad,
dan merawat.
Poin-Poin Penting untuk
Hafalan:
- Koṇḍañña: Murid pertama & khotbah pertama (Dhammacakka).
- Uruvela Kassapa: Mantan pemuja api & pengikut
terbanyak.
- Sāriputta: Kebijaksanaan & Panglima Dhamma.
- Moggallāna: Kesaktian & cara mengatasi kantuk.
- Mahākassapa: Tapa ketat & pemimpin Konsili
Pertama.
- Mahākaccāna: Penjelasan detail & kulit emas.
- Ānanda: Bendahara Dhamma & pelayan setia
Buddha.
8. Bhikkhu Upāli: Sang Penjaga
Disiplin
Upāli awalnya adalah seorang
tukang cukur rendah hati yang melayani para pangeran Sākiya di Kapilavatthu.
Saat para pangeran memutuskan untuk menjadi petapa, Upāli ikut serta dan justru
meminta ditahbiskan lebih dulu atas saran para pangeran agar mereka bisa
belajar menghancurkan keangkuhan kasta. Karena ketelitiannya dalam mempelajari
aturan langsung dari Buddha, ia mencapai kesucian Arahat dan diakui sebagai bhikkhu
yang paling unggul dalam mengingat Vinaya (peraturan).
9. Bhikkhu Sivalī: Sang
Pembawa Keberuntungan
Lahir setelah berada di dalam
kandungan selama 7 tahun 7 bulan 7 hari akibat kamma masa lalu, Sivalī langsung
ditahbiskan oleh Bhikkhu Sāriputta pada usia 7 tahun. Saat rambutnya dicukur,
ia langsung mencapai tingkat Arahat. Karena kebajikan berdananya yang luar
biasa di kehidupan lampau, ia selalu membawa kelimpahan makanan bagi rombongan
Buddha, sehingga ia digelar sebagai bhikkhu yang paling unggul dalam
memperoleh kebutuhan hidup.
10. Bhikkhu Rāhula: Sang Sāmaṇera
Pertama
Sebagai putra kandung Pangeran
Siddhattha, Rāhula ditahbiskan menjadi Sāmaṇera (calon bhikkhu) pertama di usia
7 tahun ketika ia meminta warisan kepada Buddha. Meskipun masih kecil dan
sempat suka berbohong untuk gurauan, ia berubah menjadi pribadi yang sangat
disiplin setelah menerima nasihat tegas dari Buddha. Berkat semangatnya yang
luar biasa dalam menuntut ilmu, ia mencapai Arahat dan digelar sebagai yang paling
unggul dalam kemauan untuk berlatih.
11. Bhikkhuṇī Mahāpajāpatī
Gotamī: Sang Pelopor Wanita
Setelah suaminya (Raja
Suddhodana) wafat, Mahāpajāpatī Gotamī yang merupakan ibu angkat Buddha
memimpin 500 wanita untuk memohon penahbisan. Ia menunjukkan kegigihan luar
biasa dengan berjalan kaki jauh hingga kakinya bengkak demi mendapatkan izin
Buddha. Akhirnya, ia menjadi bhikkhuṇī pertama setelah menyetujui delapan
aturan ketat (Garudhamma) dan diakui sebagai bhikkhuṇī yang paling unggul
dalam pencapaian kesaktian hebat.
12. Bhikkhuṇī Khemā: Sang Ratu
Bijaksana
Khemā adalah permaisuri Raja
Bimbisāra yang sangat cantik dan awalnya enggan menemui Buddha karena takut
kecantikannya dicela. Namun, setelah melihat ilusi yang diciptakan Buddha
tentang seorang gadis cantik yang menua dan hancur menjadi tulang, ia seketika
menyadari ketidakkekalan dan mencapai Arahat saat itu juga. Karena
kecerdasannya yang tajam, Buddha menggelarinya sebagai bhikkhuṇī yang paling
unggul dalam kebijaksanaan agung.
13. Bhikkhuṇī Upalavaṇṇā: Sang
Pemilik Kesaktian
Upalavaṇṇā memilih menjadi
bhikkhuṇī untuk menghindari perebutan para raja yang terpesona oleh
kecantikannya yang seindah teratai biru. Ia mencapai tingkat Arahat melalui
meditasi objek api dan memiliki kemampuan spiritual yang sangat tinggi.
Peristiwa tragis saat ia diperkosa di hutan Andhavana menjadi alasan Buddha
melarang para bhikkhuṇī tinggal di hutan, dan ia sendiri diakui sebagai bhikkhuṇī
yang paling unggul dalam kesaktian.
14. Bhikkhuṇī Paṭācārā: Sang
Penakluk Duka
Paṭācārā mengalami tragedi luar
biasa di mana ia kehilangan seluruh anggota keluarganya dalam waktu singkat
hingga membuatnya kehilangan ingatan (gila). Buddha berhasil memulihkan
kesadarannya dengan mengajarkan bahwa duka adalah bagian dari samsara, dan ia
mencapai Arahat saat merenungkan aliran air yang meresap ke tanah. Karena
ketekunannya mempelajari hukum sangha, ia digelar sebagai bhikkhuṇī yang
paling unggul dalam mengingat Vinaya.
15. Bhikkhuṇī Kīsāgotamī: Sang
Pencari Kebenaran
Kīsāgotamī sempat dianggap gila
karena membawa mayat anaknya mencari obat penyembuh, hingga Buddha menyuruhnya
mencari biji sesawi dari rumah yang tidak pernah mengalami kematian.
Kegagalannya menemukan biji tersebut menyadarkannya bahwa kematian adalah hukum
alam bagi semua makhluk. Setelah ditahbiskan dan mencapai Arahat, ia dikenal
karena gaya hidupnya yang sangat sederhana dan digelar sebagai bhikkhuṇī
yang paling unggul dalam mengenakan jubah lusuh.
16. Sāmaṇera Paṇḍita: Sang
Pengendali Pikiran
Paṇḍita ditahbiskan oleh Bhikkhu
Sāriputta pada usia 7 tahun dan mencapai tingkat Arahat hanya dalam waktu
delapan hari. Ia terinspirasi untuk mengendalikan batinnya setelah melihat
petani mengatur air dan tukang kayu membentuk kayu; ia berpikir bahwa jika benda
mati saja bisa diarahkan, maka batin pun pasti bisa. Berkat keteguhan
meditasinya yang bahkan dijaga oleh Dewa Sakka, ia menjadi simbol keberhasilan
dalam menjadikan kejadian sehari-hari sebagai objek meditasi.
17. Sāmaṇera Saṅkicca: Sang
Kebal Pedang
Saṅkicca adalah anak yang selamat
secara ajaib dari api pembakaran jenazah ibunya dan mencapai Arahat saat
rambutnya dicukur habis di usia 7 tahun. Keberaniannya terbukti saat ia secara
sukarela menggantikan 30 bhikkhu senior untuk dijadikan tumbal oleh para
perampok. Ketika pedang pemimpin perampok bengkok saat mencoba menebas
lehernya, para perampok tersebut bertobat dan ikut menjadi murid Buddha,
membuktikan kekuatan moralitas yang lebih mulia daripada usia yang panjang.
18. Sāmaṇera Sukha: Sang
Pengendali Batin
Sukha berasal dari keluarga
miskin yang bekerja keras sebagai buruh selama tiga tahun demi mencicipi
makanan lezat. Namun, saat makanan impiannya sudah di depan mata, ia justru
mendermakan seluruhnya kepada seorang Pacceka Buddha. Berkat kebajikan luar biasa
ini, ia menjadi kaya raya dan akhirnya terlahir kembali di masa Buddha Gotama.
Di usia tujuh tahun, ia ditahbiskan oleh Bhikkhu Sāriputta. Terinspirasi dari
cara petani mengatur air dan tukang panah meluruskan anak panah, ia menyadari
bahwa batin pun bisa dilatih. Dengan bantuan Dewa Sakka yang menjaga ketenangan
wiharanya, ia mencapai kesucian Arahat tepat saat Buddha sedang "menjaga
pintu" wihara untuk memberinya waktu bermeditasi.
- Poin Penting: Ia adalah contoh nyata bahwa
pengorbanan besar (memberikan satu-satunya makanan setelah bekerja 3
tahun) membuahkan hasil yang sangat cepat.
19. Sāmaṇera Vanavāsītissa:
Sang Pencinta Kesunyian
Tissa adalah reinkarnasi dari
Brāhmaṇa Mahāsena yang pernah berdana nasi kepada Bhikkhu Sāriputta dengan
penuh keyakinan. Di masa Buddha Gotama, ia lahir kembali dan ditahbiskan pada
usia tujuh tahun. Karena merasa terganggu oleh keramaian sanak saudara di
wihara, ia memutuskan untuk pergi berlatih meditasi di hutan sendirian. Hanya
dalam waktu tiga bulan, ia berhasil mencapai tingkat kesucian Arahat. Saat
dikunjungi oleh Buddha dan para siswa utama, Tissa dengan bijak menyatakan
bahwa air mata makhluk hidup di dunia ini lebih banyak daripada air samudra.
- Poin Penting: Namanya "Vanavāsī"
berarti "tinggal di hutan", mencerminkan pilihannya untuk
menjauh dari keramaian demi mencapai pencerahan.
20. Sāmaṇera Sumana: Sang
Penakluk Naga
Sumana adalah reinkarnasi dari
Annabhāra (seorang pengangkut rumput miskin) yang merupakan sahabat Bhikkhu
Anuruddha di kehidupan lampau. Setelah ditahbiskan oleh Anuruddha, ia mencapai
kesucian Arahat tepat saat rambutnya selesai dicukur. Sumana menjadi terkenal
karena keberaniannya mengambil air dari danau Anodāta yang dijaga oleh raja
naga yang marah. Dengan kesaktiannya, ia berhasil menaklukkan raja naga
tersebut. Karena ketenangan dan kemampuannya, Buddha memberinya penahbisan
penuh (upasampada) meskipun ia baru berusia tujuh tahun.
- Poin Penting: Sumana membuktikan bahwa usia
muda bukanlah penghalang untuk memiliki kesaktian dan merealisasi ajaran
tertinggi.
21. Hartawan Anāthapiṇḍika:
Penyokong Utama Sangha
Sudatta, yang lebih dikenal
sebagai Anāthapiṇḍika ("Pemberi Makan Kaum Miskin"), adalah upasaka
yang paling dermawan. Ia membeli Hutan Jeta dari Pangeran Jeta dengan cara
menutupi tanahnya dengan kepingan emas untuk membangun Wihara Jetavana. Ia
tidak hanya rutin berdana makanan dan obat-obatan, tetapi juga tekun
mempraktikkan Sila dan meditasi hingga mencapai tingkat kesucian Sotāpanna.
Sebelum wafat, ia menanam "Pohon Bodhi Ānanda" sebagai objek puja
bagi masyarakat. Setelah meninggal, ia terlahir di Surga Tusita dan muncul
kembali sebagai dewa untuk memuji kebijaksanaan dan kebajikan.
- Poin Penting: Buddha menggelarinya sebagai "Upasaka
yang Unggul dalam Menyokong". Ia mengajarkan bahwa kedermawanan
harus dibarengi dengan latihan batin (meditasi).
22. Citta Gahapati: Pembicara
Dhamma yang Ulung
Citta adalah seorang hartawan
yang mencapai tingkat kesucian Sotāpanna setelah mendengar Dhamma dari Bhikkhu
Mahānāma. Ia sangat murah hati dan mendermakan Taman Ambāṭaka sebagai wihara.
Meski belum pernah bertemu Buddha secara langsung saat mencapai tingkat
kesucian Anāgāmi, ia tetap teguh dalam keyakinan. Ketika ia akhirnya melakukan
perjalanan jauh untuk menemui Buddha, ia membawa ribuan pengikut dan
persembahan luar biasa. Kepiawaiannya dalam menjelaskan ajaran membuat Buddha
memberinya gelar sebagai "Upasaka yang Terunggul dalam Berbicara
Dhamma".
- Poin Penting: Citta adalah teladan bagi umat
awam bahwa seseorang bisa mencapai tingkat kesucian tinggi (Anāgāmi) dan
sangat ahli dalam teori Dhamma meskipun tetap menjalani hidup sebagai
perumah tangga.
23. Upāsaka Dhammika: Pelaku
Kebajikan yang Bahagia
Dhammika adalah pemimpin dari
ratusan upasaka di Sāvatthī yang sangat taat menjalani Sila. Menjelang ajalnya,
ia meminta para bhikkhu membacakan Satipaṭṭhāna Sūtta. Saat sūtta
dibacakan, dewa-dewa dari enam alam surga datang menjemputnya dengan kereta
surgawi. Karena ingin fokus mendengar Dhamma, Dhammika meminta para dewa
menunggu. Meskipun awalnya disalahpahami oleh anak-anaknya, ia akhirnya
meninggal dengan tenang dan terlahir di Surga Tusita.
- Poin Penting: Cerita ini menekankan bahwa
bagi orang yang bajik, kematian bukanlah hal yang menakutkan, melainkan
sebuah transisi menuju kebahagiaan yang lebih besar (bahagia di dunia ini
dan dunia berikutnya).
24. Visākhā: Ibu Bagi Sangha
Visākhā mencapai kesucian pertama
pada usia tujuh tahun. Ia dikenal sebagai sosok wanita yang cerdas, anggun, dan
sangat berbakti. Ia berhasil membimbing mertuanya, Migāra, yang awalnya
pengikut ajaran lain untuk berlindung kepada Buddha, sehingga ia dijuluki
"Migāramātā" (Ibu Migāra). Visākhā membangun Wihara Pubbārāma dari
hasil penjualan perhiasannya yang sangat mahal. Ia sangat perhatian pada
kebutuhan para bhikkhu, terutama saat mereka sakit.
- Poin Penting: Buddha menggelarinya sebagai "Upasikā
yang Unggul dalam Menyokong". Ia hidup hingga usia 120 tahun
dengan fisik yang tetap bugar dan hati yang penuh kasih.
25. Ratu Mallikā: Sang Pemberi
Dana Tunggal
Mallikā berawal dari seorang
gadis pemetik bunga yang menjadi permaisuri Raja Pasenadi karena kebajikannya
berdana kue kepada Buddha. Ia adalah penasihat yang bijaksana bagi Raja dan
membantunya menyelenggarakan "Asadisadāna" (Dana Tunggal yang Tak
Tertandingi). Meskipun sangat bajik, ia sempat melakukan satu kebohongan karena
rasa malu, yang menyebabkan ia terjatuh ke neraka selama tujuh hari sebelum
akhirnya lahir di Surga Tusita.
- Poin Penting: Ceritanya mengajarkan tentang
kekuatan "cinta pada diri sendiri" (bahwa seseorang yang
mencintai dirinya tidak akan menyakiti orang lain) dan peringatan bahwa
satu kesalahan kecil yang terus dipikirkan saat ajal tiba bisa menghambat
kelahiran di alam bahagia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar