Jumat, 28 November 2025

Riwayat Singkat Masa Pembabaran Dhamma (45 Tahun)

Riwayat Singkat Masa Pembabaran Dhamma (45 Tahun)

 

1.              Pencerahan dan Khotbah Pertama: Pada usia 35 tahun, setelah mencapai pencerahan agung di bawah pohon Bodhi di Bodh Gaya, Beliau menghabiskan beberapa minggu merenungkan kebahagiaan pembebasan. Beliau kemudian pergi ke Taman Rusa di Sarnath, dekat Varanasi, dan menyampaikan khotbah pertamanya kepada lima petapa, yang dikenal sebagai Memutar Roda Dhamma (Dhammacakkappavattana Sutta). Ini menandai dimulainya penyebaran ajaran-Nya.

2.              Pembentukan Sangha: Kelima petapa tersebut menjadi siswa pertamanya, dan bersama dengan 60 siswa lainnya yang segera menyusul, mereka membentuk Sangha (komunitas monastik) awal. Buddha mengutus mereka ke berbagai arah untuk menyebarkan Dhamma demi kebaikan banyak makhluk.

3.              Perjalanan Tanpa Lelah: Selama 45 tahun, Sang Buddha melakukan perjalanan terus-menerus, kecuali selama musim hujan (vassa), di mana Beliau berdiam di satu tempat, sering kali di vihara yang didanai oleh para pengikut awam seperti Anathapindika dan Visakha. Beliau berjalan kaki ribuan kilometer melintasi lembah Sungai Gangga.

4.              Ajaran Utama: Ajarannya, yang dikenal sebagai Dhamma, berfokus pada pengakhiran penderitaan (dukkha) melalui pemahaman Empat Kebenaran Mulia dan praktik Jalan Tengah atau Jalan Mulia Beruas Delapan. Beliau menekankan nilai-nilai seperti welas asih (karuna), kebijaksanaan (pañña), dan moralitas (sila).

5.              Audiens yang Beragam: Buddha mengajar semua lapisan masyarakat, dari raja dan bangsawan hingga orang miskin, pencuri, dan orang-orang dari kasta rendah, tanpa memandang latar belakang sosial mereka.

6.              Peristiwa Penting: Selama periode ini, beberapa peristiwa penting terjadi, termasuk kunjungan kembali ke Kapilavatthu (kota asalnya), mukjizat ganda di Savatthi, dan pembabaran Abhidhamma di surga Tavatimsa.

Berikut penjelasan rinci mengenai tiga peristiwa penting tersebut:

·         Kunjungan Kembali ke Kapilavatthu: Setelah pencerahan, Buddha mengunjungi kota asalnya, Kapilavatthu, atas undangan Raja Suddhodana (ayahnya). Awalnya, penduduk istana dan anggota klan Sakya enggan memberi hormat kepadanya karena usia Sang Buddha yang lebih muda dari beberapa kerabatnya. Buddha kemudian melakukan beberapa mukjizat untuk menunjukkan pencapaian spiritualnya. Selama kunjungan ini, putranya, Rahula, ditahbiskan menjadi samanera (calon bhikkhu) dan banyak anggota keluarganya, termasuk saudara tirinya Nanda dan sepupunya Ananda, menjadi pengikutnya yang setia.

·         Mukjizat Ganda di Savatthi: Ini adalah mukjizat paling terkenal yang dilakukan Sang Buddha, terjadi di Savatthi, di hadapan Raja Pasenadi dan banyak penonton. Ketika ditantang oleh guru-guru lain untuk menunjukkan kemampuan spiritualnya, Sang Buddha melakukan "Mukjizat Ganda" (Yamaka-patihariya): api dan air memancar secara simultan dari tubuhnya, secara bergantian dari sisi kanan dan kiri, depan dan belakang, sambil Beliau berjalan di udara. Peristiwa ini mengokohkan keunggulan spiritualnya dan membungkam para penentangnya.

·         Pembabaran Abhidhamma di Surga Tavatimsa: Pada suatu musim hujan (vassa), Sang Buddha naik ke alam surga Tavatimsa untuk mengajarkan Dhamma yang lebih mendalam, yang dikenal sebagai Abhidhamma (ajaran tertinggi/filsafat), sebagai bentuk penghormatan kepada ibunya, Ratu Maya, yang telah terlahir kembali di sana sebagai dewa. Beliau mengajar para dewa selama tiga bulan dan kembali ke bumi melalui tangga permata di Sankassa. Peristiwa ini menunjukkan kemampuan metafisik Sang Buddha untuk berinteraksi dengan alam lain dan menekankan kedalaman ajarannya.

  1. Parinibbana (Wafat): Di tahun terakhirnya, pada usia 80 tahun, setelah memberikan khotbah terakhirnya dan memastikan ajarannya telah tertanam kuat, Buddha Gautama mencapai Parinibbana (wafat akhir, terbebas sepenuhnya dari siklus kelahiran kembali) di Kushinagar. 

 

Singkatnya, 45 tahun tersebut adalah dedikasi tanpa henti dari Sang Buddha untuk menunjukkan jalan menuju pembebasan dari penderitaan kepada dunia.