PANDANGAN FILSAFAT REALISME
TERHADAP EGOISME PELAJAR PINTAR
DI SD SARIPUTRA KOTA JAMBI
oleh
Suwito
SIKAP EGOISME PELAJAR YANG PINTAR
TERHADAP PELAJAR LAINNYA DAN LINGKUNGAN SEKOLAH
DI SD SARIPUTRA KOTA JAMBI DIPANDANG DENGAN FILSAFAT REALISME
1.
PENDAHULUAN
Potensi
kecerdasan berhubungan dengan intelektual sedangkan bakat tidak hanya terbatas
dengan kemampuan intelektual. Pendapat ini mula-mula dikemukakan oleh
United Stated Of Education (Feldhusen, 1994). Bahwa anak berbakat adalah anak yang diidentifikasi oleh orang dengan
kualifikasi profesional. Anak-anak yang telah mampu menunjukkan prestasinya dan
atau berupa potensi kemampuan dibeberapa bidang seperti:
a. kemampuan intelegensi umum.
b. kemampuan akademik khusus( spesifik
academik aptitude)
c. berfikir produktif atau kreatif
d. kemampuan kepemimpinan.
e. kemampuan dibidang seni.
f. kemampuan psikomotorik
Proses
mengidentifikasi peserta didik cerdas, istimewa dilakukan dengan pendekatan
multidimensional. Artinya kriteria yang digunakan lebih dari satu (bukan
sekedar batasan yang digunakan peserta didik yang memiliki dimensi kemampuan
pada tarap cerdas ditetapkan skor IQ 130 ke atas dengan pengukuran menggunakan
skala wechsler). Selain itu juga ada anak cerdas istimewa yang memiliki
kesenjangan tinggi diantara domain kemampuannya berdasarkan tes-tes kecerdasan
yang baku, prestasi maupun bakat dengan ketimpangan kemampuan kognisi dan
kemampuan adaptif serta prestasi dilapangan.
2.
PEMBAHASAN
Pada
dasarnya realisme merupakan filsafat yang memandang realitas secara dualitas.
Realitas berbeda dengan materialisme dan idealisme yang bersifat monistis.
Realisme berpendapat bahwa hakikat realitas ialah terdiri atas dunia fisik dan
dunia rohani. Realisme membagi realitas menjadi dua bagian yaitu subjek yang
menyadari dan mengetahui di satu pihak, dan dipihak lainnya adalah adanya
realita di luar manusia, yang dapat dijadikan sebagai objek pengetahuan
manusia.
Dipandang
dari filsafat pendidikan realisme kesenjangan dan perbedaan sikap pelajar yang
pintar terhadap pelajar lainnya dan lingkungan sekolah pada prinsipnya pandangan
filsafat realisme menitikberatkan pada kajian suatu peristiwa yang terjadi
dilingkungan sesuai dengan kenyataan yang ada, berdasarkan hal tersebut sikap
egoisme merupakan suatu fenomena yang terjadi dilapangan khususnya SD SARIPUTRA
Kota Jambi. Penomena ini terjadi disebabkan oleh kemampuan berfikir kritis dapat mengarah
kearah sikap meragukan (skeptis) baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain, kemampuan kreatif dan
minat untuk melakukan hal-hal yang baru bisa menyebabkan mereka tidak menyukai
atau lekas bosan terhadap tugas-tugas rutin, perilaku yang ulet dan terarah
pada tujuan yang menjurus keinginan untuk memaksakan atau mempertahankan
pendapatnya, kepekaan yang tinggi dapat membuat mereka menjadi mudah
tersinggung atau peka terhadap kritik, semangat kesiagaan mental dan inisiatif
yang tinggi membuat sabar dan kurang tenggang rasa jika tidak ada kegiatan atau
jika kurang tampak kemajuan dalam kegiatan yang berlangsung, dengan kemampuan
dan minatnya yang beraneka ragam mereka membutuhkan keluwesan serta dukungan
untuk dapat menjajaki dan mengembangkan minatnya serta sikap acuh tak acuh dan
malas dapat timbul karena pengajaran yang diberikan oleh sekolah kurang
megundang tantangan baginya.
Filsafat
realisme memandang kesenjangan sikap egoisme peserta didik yang pintar dalam
penyelenggaraan pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi
kecerdasan istimewa yaitu dengan : (1)
dengan program percepatan (akselerasi); (2) hakikat manusia;(3) hakikat
pembangun nasional;(4) tujuan pendidikan;(5) usaha untuk mencapai tujuan
pendidikan tersebut (depdikbud:1994).
Bahan
pendidikan yang esensial bagi aliaran filsafat
realisme adalah pengalaman manusia. Yang esensial adalah apa yang merupakan penyatuan dan pengulangan dari
pengalaman manusia. Menurut Aristoteles, terdapat aturan moral universal yang
diperoleh dan mengikat manusia sebagai mahkluk rasional. Disekolah sebaiknya
perhatian pada mata pelajaran dalam (sabjec matter) namun selain itu sekolah
harus menghasilkan individu-individu yang sempurna kesenjangan antara peserta
didik yang pintar akan terasa lebih berjarak jika pihak sekolah khususnya para
guru yang mengajar agar dapat menyiasati atau mengambil jalan tengah penanganan hal ini dengan peserta didik yang
pintar sebaiknya diajarkan ukuran moral absolut dan universal, sebab apa yang
dikatakan baik dan benar untuk keseluruhan peserta didik bukan hanya untuk satu
individu atau kelompok tertentu atau anak-anak yang memiliki kecerdasan lebih
dari peserta didik yang lainnya. Kebaikan atau kecerdasan tidak datang dengan
sendirinya melainkan harus dipelajari dan terapkan.
3.
KESIMPULAN DAN SOLUSI
v Kesimpulan
a. Realisme berpendapat bahwa hakikat
realitas terdiri atas dunia fisik dan rohani
b. Potensi kecerdasan berhubungan dengan
intelektual, sedangkan bakat tidak terbatas dengan kemampuan intelektual
c. Kesenjangan antara peserta didik yang
pintar teratasi, jika guru memberikan pengarahan dan bimbingan berkenaan sikap
egoisme
v Solusi
Kesenjangan antara peserta didik yang pintar teratasi, jika guru memberikan pengarahan dan bimbingan berkenaan sikap egoisme
Kebaikan atau kecerdasan tidak datang dengan sendirinya, melainkan memerlukan keterlibatan pihak lain. Misalnya : Orangtua, Guru, Lembaga pendidikan dan masyarakat.
Kesenjangan antara peserta didik yang pintar teratasi, jika guru memberikan pengarahan dan bimbingan berkenaan sikap egoisme
Kebaikan atau kecerdasan tidak datang dengan sendirinya, melainkan memerlukan keterlibatan pihak lain. Misalnya : Orangtua, Guru, Lembaga pendidikan dan masyarakat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar